Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Kamis, Januari 23, 2020
Halaman Home » Bekasi Kota » R. Meggi Brotodihardjo: Kabupaten Bekasi Darurat Sampah
  • Follow Us!

R. Meggi Brotodihardjo: Kabupaten Bekasi Darurat Sampah 

BERITA BEKASI – Maraknya pemberitaan, ditemukannya sejumlah sungai yang alirannya tertutup sampah mencapai ribuan ton yang tersebar di Kali Pisang Batu, Kali Cibalok, Kali Busa, hingga Kali Jambe di Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Selain itu, penutupan sementara Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Burangkeng oleh warga sekitar yang menilai sampah kian meluber mencemari pemukiman serta banyaknya Tempat Pembuangan Sementara Sampah (TPS) ilegal.

“Termasuk, sampah import yang sudah sangat dikeluhkan masyarakat semakin memperparah pengelolaan sampah di Kabupaten Bekasi,” tegas Pengamat Kebijakan Publik Bekasi, R. Meggi Brotodiharjo kepada Beritaekspres.com, Jumat (1/11/2019).

Dikatakan Meggi, minimnya Sarana Prasarana pengelolaan sampah, angkutan dan alat berat, TPS, container maupun tong sampah dan produksi sampah yang kian meningkat dan kurangnya tenaga pembersih serta kurangnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan turut menjadikan Kabupaten Bekasi dalam kondisi darurat sampah. 

“TPA Burangkeng, satu-satunya milik Kabupaten Bekasi yang dibangun 24 tahun silam dan sekarang sudah overload sejak tahun 2014. Bahkan dari 11,6 Ha saat ini berkurang terkena pembebasan jalan tol hampir 8000M2, maka akan semakin sulit mengelola TPA yang sudah overload menggunung setinggi  25M itu,” jelas Meggi mantan Tim Perumus Visi-Misi Kabupaten Bekasi.

Diungkapkan Meggi, berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, jumlah sampah yang dihasilkan Kabupaten Bekasi saat ini setiap harinya mencapai 2.900 ton. Namun, yang dapat diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir atau Burangkeng hanya sebanyak 850 ton.

“Jadi, hampir sekitar 2000 ton sampah yang tidak dapat terangkut ke TPA Burangkeng setiap hari dan sampah itu bertebaran dimana-mana, sehingga patut dan dapat diduga sebagai salah satu sumber banyaknya sampah di beberapa kali dan sungai itu,” ungkap Meggi.

Bisa dibayangkan lanjut Meggi, jika masalah sampah ini terus berkelanjutan, maka dapat diduga dan patut diwaspadai efek domino dari masalah pengelolaan sampah itu. Tahun ini, sudah 3 kali TPA Burangkeng mengalami kebakaran yang kemungkinan besar akibat Gas Metan yang terkandung didalamnya.

“Bagus saja pengelola  bisa mengatasinya, sehingga tidak menimbulkan bahaya lebih fatal, belum lagi penyakit yang ditimbulkan, bau, kotor dan jorok, sehigga sangat kontradiksi dengan jargon Bekasi Bersih maupun Bekasi Bersinar,” sindirnya.

Apalagi kata Meggi, jika merujuk kepada awal Komitmen Indonesia Bergerak Bebas Sampah di 2020 serta Kebijakan dan Strategi Nasional (Jakstranas) 2025, malah terkesan Kabupaten Bekasi tidak tergerak sama sekali dengan tambah parahnya pengelolaan sampai saat ini, sehingga darurat sampah.

“Kalau hanya  bicara TPA yang perlu ditambah dan kenyataannya tidak segera bertambah, Anggaran yang tidak memadai, Sarana-Prasarana yang masih sangat kurang, masalah sampah tidak akan pernah  bisa segera diatasi dan akan semakin bertambah menumpuk terus,” tegas Meggi. 

Masih kata Meggi, sampah yang tidak terangkut akan menjadi semakin banyak menyebar kemana-mana dan semakin susah dikelola maupun dibersihkan, sehingga menimbulkan berbagai masalah yang semakin kompleks.

Dengan kondisi darurat sampah saat ini, sangatlah tidak tepat kebijakan untuk menambah alat pengangkutan, alat berat, melihat daya tampung TPA juga sudah overload. Itu semua baru diperlukan setelah dapat mengatasi darurat sampah ini, sudah barang tentu harus didahului dengan kajian yang komprehensif oleh ahlinya untuk menentukan Road Map pengelolaan sampah di Kabupaten Bekasi.

Suatu waktu TPA akan sangat penuh dan tidak dapat lagi menampung sampah, maka menambah kapasitas TPA atau membuka TPA baru sebenarnya juga tidak menyelesaikan akar dari permasalahan, yaitu produksi sampah yang kian tinggi dan sistem manajemen sampah yang buruk.

“Perluasan TPA yang sudah overload sejak 5 Tahun, sudah sejak lama direncanakan akan diperluas dan kenyataannya sampai kondisi darurat sampah saat ini, dengan berbagai dalih tidak pernah terealisasi,” ungkapnya.

Oleh karena itu tambah Meggi, diharapkan agar semua pihak gotong-royong berkontribusi untuk segera menuntaskan kondisi darurat sampah ini dengan segala cara dan upaya dengan tidak usah saling menyalahkan. Dan setiap OPD terkait juga bersinergi, bersama-sama dalam mengatasi masalah sampah ini, bukan saling tuding dan saling tunggu.

“Kami juga akan segera berkontribusi dengan menyampaikan saran maupun masukan kepada Pemda Kabupaten Bekasi, tentang solusi cepat dan tepat cara mengatasi darurat sampah ini dengan cara yang efisien dan efektif,” pungkasnya. (De/Mul)

Comments

comments