Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Jumat, Desember 6, 2019
Halaman Home » Berita Daerah » Merasa Dibohongi, Ratusan Pelajar Papua Kembali ke Semarang
  • Follow Us!

Merasa Dibohongi, Ratusan Pelajar Papua Kembali ke Semarang 

BERITA SEMARANG – Puluhan pelajar asal Papua memutuskan untuk kembali ke Semarang, Jawa Tengah. Mereka sebelumnya pulang kampung, ketika terjadi kerusuhan beberapa waktu lalu. Rata-rata mereka yang kembali ke Semarang ini untuk meneruskan pendidikan yang belum rampung.

Anderson Natkime, pelajar kelas XII SMA Santo Michael Semarang mengatakan, dirinya kembali ke Semarang karena tempat sekolah barunya, tidak bisa menerima kiriman nomor peserta ujian nasional.

Sebenarnya kata Anderson, sekolah di tempat asalnya di Timika juga menerima dengan tangan terbuka, untuk warga setempat yang ingin melanjutkan pendidikan.

Hanya saja, ujian nasional tidak bisa dilaksanakan disana, sehingga harus menuntaskan sekolahnya di Semarang, Jawa Tengah.

“Saya harus selesaikan dulu. Sebelumnya saya pulang ke Papua karena ingin bergabung dengan keramaian, setelah lihat di YouTube. Sebenarnya orang tua tidak menyarankan, tapi itu kemauan saya pribadi saya, karena saya sadar bahwa saya merasa dibohongi oleh pemberitaan yang berkembang saat itu,“ kata Anderson di Press Room Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jumat, (15/11/2019).

Pelajar asal Timika, Papua Tengah ini mengungkapkan, ada puluhan pelajar yang kembali ke Semarang. Rata-rata mereka ingin meneruskan studinya ke yang belum selesai. Mereka sebelumnya pulang karena terjadi kerusuhan. Tapi ternyata informasi yang didapatnya melalui media sosial tidak sesuai dengan realita di Papua. 

“Memang yang pulang ke Papua banyak, faktanya begitu karena isu-isu (negatif). Pelajar yang masih di sana bisa dihitung,” tutur Andreson.

Menurut dia, di Kota Semarang karakter masyarakatnya seperti Papua, orangnya juga ramah, baik, setelah kenalan cepat jadi teman. Bahkan seolah sudah dianggap seperti keluarga sendiri. 

“Ini yang buat kami tambah nyaman, pengen di sini terus. Tapi hati kecil kami, tetap cinta Papua,” ucapnya.

Senada dengan siswa SMK Bagimu Negeri Semarang, Susan Manuaron mengaku sejak awal sudah memutuskan untuk tidak kembali ke rumahnya di Nabire, Papua Barat, karena tidak terprovokasi dengan isu-isu negatif yang berkembang saat itu. Bahkan, ketika diajak sepupunya yang kuliah di Semarang pun dia tolak baik-baik.

“Sepupu mengajak pulang, Papua katanya mau pisah sendiri. Di sini saya aman. Pokoknya tidak, itu hari Sabtu dan Senin mau pulang, papa sudah kirim ongkos untuk pulang,” ucapnya.

Siswi kelas XII ini merasa nyaman-nyaman saja sekolah di Semarang. Dirinya juga ditelepon oleh ibunya dan mengatakan bahwa Nabire Aman, dan Papua aman, meski ada sedang kacau saat itu.

Mereka para pendemo masih marah-marah kepada Pemerintah. Dirinya mengatakan kepada ibunya ingin fokus sekolah dan akhirnya berlima dengan rekannya satu sekolah tidak pulang kampung.

“Di Semarang aman kan, fokus kami sekolah saja, tidak terganggu apa-apa. Kami sudah terasa seperti Papua, kalau ketemu sesama halo kakak. Ini Papua, kita mau membeda-bedakan tidak bisa,” ujarnya.

“Saya ingin selesaikan sekolah dulu, pengen menjadi orang sukses dan ingin kembali dan membangun Papua kelak,” ucap menambahkan. (Nining)

 

Biro Semarang

Comments

comments