Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Sabtu, Desember 7, 2019
Halaman Home » Berita Daerah » Berkendara Musim Hujan, Ban dan Kipas Kaca Perlu Perhatian Khusus
  • Follow Us!

Berkendara Musim Hujan, Ban dan Kipas Kaca Perlu Perhatian Khusus 

BERITA SEMARANG – Wakil Ketua APTRINDO Jawa Tengah (Jateng), Bambang Widjanarko menyatakan, saat musim penghujan, banyak orang menemui masalah saat bepergian dengan kendaraan bermotor. Selain jarak pandang sering terbatasi oleh tirai air, permukaan jalan juga jadi licin.

“Tidak perlu khawatir, yang perlu diperhatikan sebelum berkendaraan adalah memeriksa pressure atau tekanan udara dalam ban, oli mesin, gardan, transmisi, rem, radiator, electricity dan segala yang berkaitan dengan elektrik kendaraan, rubber atau ban, kipas kaca dan karet seal atau power,” terang Bambang di Semarang, Selasa (12/11/2019).

Dikatakan, dalam menghadapi musim hujan, yang harus mendapat perhatian khusus adalah ban dan kipas kaca. Disamping memeriksa tekanan udara dalam ban, juga perlu meneliti usia ban dan sisa kedalaman telapak ban. Sebab ban sering harus bekerja ekstra keras untuk tetap bisa mempertahankan daya cengkeramnya di permukaan jalan basah.

“Tekanan udara dalam ban adalah hal yang paling krusial dan harus selalu disesuaikan dengan beban muatan kendaraan agar telapak ban mampu menapak secara merata pada permukaan jalan. Jika tekanan udara dalam ban terlalu tinggi, maka hanya bagian tengah telapaknya saja yang akan menapak di permukaan jalan,” ungkap dia.

Sebaliknya, lanjut Bambang, jika tekanan udara dalam ban terlalu rendah, maka hanya kedua sisi telapaknya saja yang akan menapak pada permukaan jalan. Telapak ban harus mendapatkan kontak yang sempurna dengan permukaan jalan, supaya kemudi kendaraan mudah dikendalikan, mengurangi resiko ban meledak akibat overheated atau panas berlebihan dan irit bahan bakar.

Jika sisa kedalaman telapak ban sudah menyentuh tread wear indikator (TWI) batas aman pemakaian ban yang berupa tonjolan pada alur telapak ban, itu tandanya ban sudah harus diganti. Sedangkan tentang usia ban merupakan hal yang masih sering diperdebatkan, karena masing-masing pabrik sering berbeda claim atas usia kadaluwarsa produknya.

“Prinsipnya ban harus sering di-training dan jangan terlalu lama diistirahatkan tanpa bergerak. Karena ban yang jarang bergulir akan lebih cepat mengalami proses pelapukan (oksidasi) dan menjadi getas,” imbuh Bambang.

Menurutnya, telapak ban yang sudah tipis akan memperpanjang jarak pengereman, selain akan kehilangan fungsi menyibak air guna mendapatkan daya cengkeram ketika melintas di permukaan jalan basah atau tergenang air.

Maka sambungnya, kendaraan akan mengalami kondisi yang disebut sebagai Aquaplaning, yaitu suatu peristiwa, ketika ban secara tiba-tiba kehilangan traksi terhadap permukaan jalan dan kendaraan seolah berselancar secara liar tidak terkendali ketika sedang berjalan melintasi water film (lapisan air) atau genangan air.

Bagaimana prioritas penggantian ban mobil, jika dana yang dimiliki hanya cukup untuk membeli 2 dari 4 ban yang ada di mobil?/ Menurut Bambang, idealnya semua ban mobil yang telapaknya sudah tipis, wajib untuk diganti. Namun jika dana terbatas, hanya cukup untuk membeli 2 ban saja, di sini sering timbul perdebatan.

“Yang harus kita pahami adalah, baik kendaraan yang mengalami situasi understeer maupun oversteer sama-sama berbahaya. Understeer adalah situasi dimana kendaraan sedang berbelok dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba ban depan kehilangan traksinya, sehingga kendaraan tidak dapat dibelokkan dan meluncur lurus tak terkendali sampai nyelonong keluar dari jalan,” jelasnya.

Sedangkan oversteer adalah situasi dimana kendaraan sedang berbelok dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba ban belakang kehilangan traksinya, sehingga kendaraan seolah mendapatkan thrust (dorongan) sangat kuat dari belakang, dan tak jarang hingga kendaraan melintir/berbalik arah menghadap ke belakang.

“Dengan pertimbangan yang sulit akibat keterbatasan dana, saya sarankan untuk mengganti ban sesuai dengan gardan tarikan mobilnya saja. Jika tarikannya roda depan, maka ban depanlah yang patut mendapat prioritas penggantian lebih dulu. Namun jika tarikannya roda belakang, maka ban belakang lah yang patut mendapat prioritas penggantian lebih dulu,” pungkasnya. (Nining)

Biro Semarang

Comments

comments