Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Rabu, Januari 29, 2020
Halaman Home » Opini » Facing Industrial 4.0 Revolution, Industrial Transportation Needs Digital System Support
  • Follow Us!

Facing Industrial 4.0 Revolution, Industrial Transportation Needs Digital System Support 

JIKA ditanya saat ini sektor apa yang begitu potensial, maka salah satunya adalah bisnis di sektor transportasi. Hal itu memang di dasarkan pada beberapa kondisi yang saat inipun bisa kita rasakan. Salah satunya adalah bisnis kendaraan online. Potensinya yang cukup besar, pada akhirnya bisa menarik banyak orang untuk bisa masuk dalam industri tersebut.

Jika di lihat secara hitung-hitungan, untuk bisnis transportas jelas menunjukan tren peningkatan. Dari mulai 2018 angkanya mencapai Rp797,3 triliun (5,37 persen dari PDB Nasional Rp14.837,36 triliun. Dan menariknya angka tersebut cenderung naik dari tahun ke tahun.

Jika tahun 2017 berada di angka Rp666,2 triliun, justru di tahun 2018 meningkat 19,7 persen menjadi Rp797,3 triliun. Kondisi ini jelas memberikan satu pertanda bahwa sektor transportasi akan terus mengalami tren peningkatan.

Menariknya kondisi yang dialami sektor transportasi, memang tidak terlepas dari beberapa hal yang pada akhirnya menempatkan industri transportasi menjadi salah satu industri terbaik yang ada di Indonesia. Pertama pertumbuhan industri pengolahan non migas, terutama industri makanan.

Kedua adanya peningkatan produksi barang-barang domestic dan impor serta adanya beberapa kondisi yang membuat sektor industri transportasi meningkat secara signifikant. Memang dari semua jalur transportasi yang ada di Indonesia, kontribusi terbesar masih berasal dari transportasi angkutan darat sebesar Rp380,8 triliun atau sekitar 51,43 persen dari total nilai transportasi yang ada.

Sekalipun angka pertumbuhan yang terjadi pada sektor transportasi cukup tinggi, namun sayangnya tingkat perbedaan yang terjadi di setiap moda transportasi terbilang cukup tinggi. Dimana masing-masing moda transportasi kondisinya seperti yang di gambarkan oleh BPS (Biro Pusat Statistik) dan di analisa oleh Setijadi Chairman Supply Chain Indonesia (SCI).

Hasilnya adalah, kontributor tertinggi masih dari angkutan darat sebesar Rp380,8 triliun atau setara 51,43 persen dan angkutan udara sebesar Rp282,2 triliun setara dengan 38,12 persen. “Angkutan laut berkontribusi sebesar 6,50 persen angkutan darat (jalan), angkutan sungai, danau, dan penyeberangan sebesar 2,30 persen dan angkutan rel sebesar 1,66 persen.

Jika kondisi seperti ini terus di biarkan, maka sektor transportasi akan mengalami satu kondisi yaitu terjadi ketidakseimbangan penggunaan moda-moda transportasi yang ada di Indonesia. Dan dampak lebih luasnya bagi sektor transportasi adalah terjadi inefisiensi proses dan biaya transportasi dan logistic yang berdampak langsung pada ketidakstabilan harga produk dan komiditas.

Menanggapi kondisi yang terjadi di sektor transportasi Handri Kosada, CEO Barantum.com memberikan komentarnya. ”Sebenarnya terjadinya inefisiensi proses dan biaya transportasi dalam industri transportasi bisa di antisipasi dengan menerapkan sistem CRM (Customer Relationship Management),” begitulah Handri menjelaskan.

Konteksnya lanjut Handri adalah dengan memaksimalkan fungsi dari CRM setelah diaplikasikan pada setiap perusahaan yang bergerak di sektor transportasi. Maka setiap perusahaan akan bisa memaksimalkan database customer yang dimilikinya agar bisa terjadi keseimbangan moda transportasi yang ada.

Ditengah pertumbuhan e-Commerce di Indonesia, serta kondisi yang telah di jelaskan diatas: Pertama pertumbuhan industri pengolahan non migas, terutama industri makanan. Kedua adanya peningkatan produksi barang-barang domestic. Kesemua hal tadi bisa lebih dimaksimalkan ketika perusahaan meng-implementasikan sistem CRM dengan baik.

Karena sistem tersebut mampu menjaga interaksi dengan pelanggannya. Sehingga jika hal itu terjadi, maka customer akan tetap bertahan, itulah kenapa pada akhirnya perusahaan perlu memberdayakan bisnis dengan solusi manajemen hubungan pelanggan atau Customer Relationship Management (CRM).

 CRM Strategi Jitu Dalam Meningkatkan Loyalitas Customer Disektor Transportasi

Munculnya sistem transportasi online, yang di awal kemunculannya dianggap mengganggu eksistensi transportasi konvensional pada akhirnya kondisi tersebut tidaklah benar. Karena justru keberadaan transportasi online berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman. Sehingga wajar jika pada akhirnya sistem transportasi berbasis online kini berkembang lebih luas.

Beberapa data analisa berikut bisa menjadi satu penguatan bahwa memang saat ini transportasi berbasis teknologi pantas di jadikan salah satu sektor unggulan dalam industri transportasi di Indonesia. Pertama berdasarkan total transaksi (Gross Transaction Value/GTV) untuk Gojek tercatat sebesar Rp126 triliun (US$9 miliar) tahun 2018.

Total transaksi tersebut naik 13,5x dibanding transaksi yang terjadi di tahun 2016. Kondisi ini memberikan satu bukti bahwa ternyata customer lebih menyukai transportasi berbasis teknologi dibanding konvensional. Kedua Gojek berhasil meningkatkan jumlah pengemudinya menjadi 2 juta di Maret 2019.

Serta beberapa layanan Gojek berhasil meningkatkan omzet penjualannya seperti: layanan GoFood mampu merangkul  lebih dari 400 ribu penjual makanan dan minuman, mampu menghadirkan 60 ribu penyedia layanan dan pada akhirnya Gojek mampu menggaet 1,7 juta pengemudi, 300 ribu mitra Gofood dan 60 ribu penyedia layanan di tahun 2018.

Sementara untuk GrabBike sendiri, berdasarkan data riset yang dilakukan oleh CSIS dan Tenggara Strategis kondisinya adalah: pendapatan pengemudi GrabBike naik 113 persen menjadi Rp4 juta, GrabCar naik 114 persen menjadi Rp7 juta per bulan. Dimana kondisi mitra pengemudinya sendiri sekitar 50 persen memiliki pendapatan diantara Rp3-5juta. Padahal, sebelumnya hanya 22 persen yang berada di kisaran angka tersebut.

Sedangkan sekitar 18 persen mitra yang berpenghasilan Rp5-7 juta setelah mereka bergabung dengan GrabBike. JIka disimpulkan kondisi diatas adalah sebagai berikut: GrabFood berhasil menyumbang Rp20,8 triliun, sedangkan untuk GrabBike dan GrabCar berkontribusi sebesar Rp15,7 triliun dan Rp9,7 triliun.

Apa yang bisa kita analisa dari data diatas, kecenderungan makin meningkatnya potensi omset penjualan dan pemasaran yang terjadi pada sektor transportasi berbasis online. Ini menunjukan bahwa apa yang di utarakan oleh Handri Kosada adalah benar.

Dengan menerapkan konsep dan sitem CRM pada akhirnya industri transportasi berbasis IT bisa meningkatkan omset pendapatannya secara signifikan. Kenapa, karena CRM yang di kembangkan berbasis karakter dari customer pada akhirnya memang mampu menjadi salah satu solusi terbaik bagi konsumen di bidang transportasi.

Minimal ada 3 alasan yang membuat sistem CRM mampu menjadi trigger sehingga omset perusahaan bisa ditingkatkan. Pertama platform CRM berhubungan dengan pelanggan (kondisi ini bisa membuat bisnis anda mampu memberdayakan pekerja untuk membuat pelanggan lebih senang dan lebih loyal kepada perusahaan), Kedua skalabilitas untuk membuat anda terus berkembang ( Barantum CRM dapat mengukur dan mengotomatiskan seluruh perjalanan pelanggan Anda tanpa pernah membeli add-on yang mahal).

Ketiga Bisa mendapatkan lebih banyak manfaat dengan biaya yang lebih terjangkau (Barantum.com memiliki semua yang Anda butuhkan, baik itu untuk meningkatkan penjualan atau sebagai layanan pelanggan, atau solusi lengkap yang menggabungkan keduanya dan lebih seperti manajemen proyek dan inventori).

Saatnya Bisnis Transportasi Nasional Butuh Dukungan Sistem Digital

Carmalita Hartato, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Bidang Perhubungan menyatakan bahwa kini saatnya bisnis transportasi dan logistic di Indonesia butuh dukungan dari sistem digital. Kondisi ini menurut Carmalita untuk mempercepat proses trasformasi yang sedang bergerak menuju Era Transportasi dan Logistik 4.0.

Untuk itulah pelaku industri dalam sektor transportasi diharapkan agar bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang sedang terjadi. Karena memasuki Era Revolusi Industri 4.0 setiap bisnis di harapkan agar bisa menerapkan sebuah sistem yang bekerja secara Otomatisasi, teknologi intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT).

Kondisi tersebut memang bukan sekedar wacana tapi harus menjadi satu perhatian bersama agar perkembangan bisnis di sektor transportasi bisa bergerak lebih cepat. Hal itu bisa juga di dasarkan pada beberapa hal seperti: 1. Bahwa saat ini keberadaan sistem digital dalam mendukung sektor transportasi sudah menjadi satu keharusan.

Jika tidak ingin bisnis di sektor transportasi justru mengalami kemunduran. 2. Sistem transportasi secara nasional sudah harus menyesuaikan dengan perkembangan kondisi yang ada. Dimana peran Informasi Teknologi sudah masuk kesemua sektor kehidupan. Sehingga jika sektor transportasi sebagai salah satu sektor pendukung utama kehidupan masyarak tidak mengarah ke sana, maka akan terjadi kepincangan yang justru makin memperbesar kondisi inefisiensi biaya di dalam masyarakat.

Sehingga dengan melihat beberapa kenyataan diatas, tidak berlebihan jika pada akhirnya kita semua berharap pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan mulai fokus untuk menentukan Arah Kebijakan TIK Nasional yang bisa mentransformasikan usaha dan Sumber Daya Manusia (SDM) transportasi menuju sistem transportasi berbasis teknologi.

 

Jakarta, 5 September 2019

 

Oleh: Achmad. S

Comments

comments