Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Rabu, Januari 29, 2020
Halaman Home » Opini » Madeline Elfriede: Impor Garam Masihkah Perlu?
  • Follow Us!

Madeline Elfriede: Impor Garam Masihkah Perlu? 

INDONESIA dikenal sebagai negara maritim dengan wilayah perairan yang sangat luas. Selain itu, Indonesia juga, termasuk salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, yaitu 99.093 KM. Meski begitu, hal ini tidak menjadi jaminan bahwa Indonesia mampu menghasilkan produksi garam untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Untuk saat ini, Indonesia masih baru bisa memenuhi kebutuhan garam konsumsi. Sementara untuk garam industri, Indonesia masih mengandalkan impor dari luar negeri. Garam konsumsi sendiri adalah garam yang memiliki kandungan NaCl 94 persen dan biasanya digunakan langsung untuk konsumsi makanan ataupun minuman.

Sementara, garam industri adalah garam yang memiliki kandungan NaCl minimal 97 persen dan digunakan sebagai bahan dasar dalam kebutuhan industri seperti kosmetik, tekstil dan lain-lain.

Sejak tahun 2012, Kemeterian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan, Indonesia telah mampu mencapai swasembada akan permintaan garam konsumsi. Sementara untuk garam industri, Indonesia masih berusaha untuk melakukan swasembada.

Luhut Binsar Panjaitan selaku Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan, impor garam industri memang perlu dilakukan. Hal ini, dikarenakan kebutuhan akan garam terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sementara, pertumbuhan produksi garam masih terbilang lambat. Oleh karena itu, impor garam diperlukan demi menjaga kestablilan harga garam.

Bila diperhatikan dari grafik, kebutuhan akan garam relatif sama meski sempat mengalami penurunan di tahun 2016. Sementara itu, produksi garam sendiri cenderung mengalami fluktuasi. Indonesia mampu memproduksi garam sebanyak 2.8 juta ton pada tahun 2015, angka ini juga menjadi angka tertinggi Indonesia dalam memproduksi garam sepanjang tahun 2014 hingga 2018.

Namun pada tahun 2016, produksi garam di Indonesia mengalami penurunan yang sangat signifikan menjadi sebesar 118.054 ton garam. Hal ini, dikarenakan anomali cuaca di Indonesia.

Seperti yang diketahui, produksi garam di Indonesia masih sangat mengandalkan matahari dalam proses panennya, namun sepanjang tahun 2016 cuaca yang tidak menentu disertai curah hujan yang lebih tinggi dari biasanya mengakibatkan banyak petani garam yang gagal panen.

Meski begitu, pada tahun 2017, produksi garam di Indonesia mengalami peningkatan menjadi 917.099 ton dan pada tahun 2018 mengalami peningkatan yang signifikan menjadi 2.7 juta ton. Meski produksi garam di Indonesia sedang mengalami pertumbuhan yang positif, tidak serta merta mampu mencukupi kebutuhan garam bagi masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, impor garam di Indonesia memang masih sangat diperlukan. Secara umum, semenjak tahun 2015 impor garam di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada tahun 2014 Indonesia mengimpor garam sebanyak 2.3 juta ton. Pada tahun 2015 impor mengalami penurunan menjadi sebanyak 1.9 juta ton. Kemudian pada tahun 2016 sebesar 2.1 juta ton.

Pada tahun 2017 impor garam mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu menjadi sebesar 2.6 juta ton dan kembali mengalami peningkatan menjadi 2.8 juta ton pada tahun 2018.

Sementara untuk tahun 2019, sejauh ini Indonesia telah melakukan impor sebesar 1.2 juta ton dari kuota impor sebesar 2.7 juta ton. Angka ini mungkin akan terus bertambah hingga akhir tahun nanti.

Sementara itu, alasan dilakukannya impor garam antara lain dikarenakan produksi garam di Indonesia masih belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Bila dilihat dari grafik, produksi garam di Indonesia masih jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan akan garam yang relatif tinggi.

Meski Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas, tidak semuanya mampu menghasilkan garam yang dibutuhkan oleh industri. Selain itu, pengolahan garam di Indonesia masih menggunakan cara-cara tradisional tanpa bantuan teknologi.

Kebanyakan petani tambak garam hanya memanfaatkan cahaya dan panas matahari dalam pengolahan garam. Hal ini mengakibatkan proses pembuatan garam terbilang cukup lambat, belum lagi kondisi cuaca dan iklim di Indonesia yang sering sekali berubah-ubah. Oleh karena itu, impor garam memang masih sangat dibutuhkan.

Hal ini bertujuan untuk menghindari kelangkaan garam dan ketidakstabilannya. Namun, Indonesia sudah harus mulai memikirkan cara untuk memenuhi kebutuhan garam sendiri demi tercapainya swasembada garam. Bila melihat dari luas laut dan garis pantainya, Indonesia sebenarnya memiliki potensial untuk memasok garamnya sendiri.

Hanya saja hal ini memang perlu waktu, usaha dan bantuan dari pemerintah. Misalnya seperti membantu investor yang ingin membuat pabrik garam dan mengadaptasi teknologi yang dimiliki negara asing seperti Australia sebagai pemasok garam terbesar di dunia.

Selain itu pemerintah juga perlu memperhatikan petani tambak garam lebih lagi, dengan terus memperhatikan harga eceran terendah garam yang sudah ditetapkan agar tidak merugikan petani. (****)

Kamis, 10 Oktober 2019

Penulis: Madeline Elfriede

Comments

comments