Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Senin, November 18, 2019
Halaman Home » Hukum » KPK Menduga Suap dan Gratifikasi Imam Nahrawi Ngalir ke Pihak Lain
  • Follow Us!

KPK Menduga Suap dan Gratifikasi Imam Nahrawi Ngalir ke Pihak Lain 

BERITA JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga suap dan gratifikasi yang diterima mantan Menpora Imam Nahrawi mengalir kepada pihak lain. Pasalnya, Imam dan asisten pribadinya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan dana hibah kepada KONI dan dugaan penerimaan gratifikasi.

“Ada fakta-fakta di mana kami menduga uang tersebut tidak hanya diterima oleh satu orang,” kata Jubir KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (19/9/2019) malam.

Dikatakan Febri, Imam diduga telah menerima suap dan gratifikasi sekitar Rp26,5 miliar dalam rentang 2014-2018. Uang itu disinyalir merupakan commitment fee atas pengurusan proposal hibah yang diajukan pihak KONI kepada Kemenpora tahun anggaran 2018.

“Penerimaan itu, terkait Ketua Dewan Pengarah Satlak Prima dan penerimaan lain yang berhubungan dengan jabatan Imam selaku Menpora,” kata Febri.

KPK menduga uang puluhan miliar itu digunakan untuk kepentingan pribadi Menpora dan pihak Iain. Namun Febri, masih enggan mengungkap pihak-pihak lain yang diduga menikmati aliran dana dari suap dan gratifikasi yang diterima Imam.

Febri menyatakan, hal tersebut merupakan salah satu materi yang akan didalami penyidik dalam proses penyidikan kasus ini. KPK juga bakal mendalami peran dan kepentingan pihak-pihak tersebut.

“Tentu akan kami dalami lebih lanjut bagaimana sebenarnya rangkaian peristiwanya kepentingannya apa dan siapa saja pihak yang diduga menerima itu akan menjadi concern dari KPK,” jelasnya.

Untuk mendalami hal ini, tim penyidik bakal memeriksa sejumlah pihak yang dinilai mengetahui sengkarut kasus ini. KPK juga memastikan segera menjadwalkan memeriksa Imam sebagai tersangka.

“Akan kami periksa nanti tapi jadwal persisnya tentu nanti tergantung perencanaan penyidikan. Penyidik punya strategi dan punya perencanaan siapa yang diperiksa terlebih dahulu,” katanya.

Kalau saksi misalnya sambung Febri, apakah saksi dari pihak KONI, pihak Kempora atau saksi dari pihak yang lain yang akan diperiksa terlebih dahulu dan kapan pemeriksaan tersangka tentu akan dijadwalkan lagi.

“Yang pasti pimpinan kemarin kan sudah mengatakan pada prinsipnya segera akan dilakukan proses pemeriksaan terhadap tersangka,” ungkapnya.

KPK mengingatkan Imam untuk koperatif dalam proses hukum ini dengan memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik. Apalagi, Imam telah berjanji akan patuh dan mengikuti proses hukum yang ada.

“Saya kira bagus ya ketika ada pernyataan-pernyataan bahwa akan kooperatif dengan proses hukum maka itu akan membantu berjalannya proses hukum ini,” imbuhnya.

Akan lebih bagus lagi tambah Febri, misalnya, mengakui perbuatannya dan menjelaskan apa adanya yang diketahui atau apa yang dilakukan meskipun tersangka punya hak yang diatur menurut hukum acara yang berlaku.

“Jadi kami lebih mengimbau agar yang bersangkutan dan juga saksi-saksi lain bersikap kooperatif dengan proses itu,” pungkasnya. (Stave)

Comments

comments