Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Selasa, November 12, 2019
Halaman Home » Hukum » Buktikan Diri Tak Bersalah, TY Serahkan Bukti Asli di Persidangan
  • Follow Us!

Buktikan Diri Tak Bersalah, TY Serahkan Bukti Asli di Persidangan 

BERITA JAKARTATerdakwa  TY menunjukkan 35 bukti asli kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat yang mengadilinya untuk dicocokkan dengan bukti dalam berkas perkaranya, bukan bukti berupa foto copy yang diajukan pelapor ke penyidik dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menjerat dirinya.

Hal itu disampaikan TY langsung ke Ketua Majelis Hakim, Sarifudin Zuhri dihadapan Jaksa Moh. Januar, ketika menggelar penundaan putusan, karena Majelis Hakim belum selesai membuat putusan yang rencananya akan dibacakan terjadap terdakwa TY, Kamis (12/9/2019) kemarin.

“Bukti ini ada 35 macam untuk dicocokkan. Dan ini penting bagi saya untuk mendapat keadilan, karena dari mereka semua bukti berupa fotocopy,” pinta TY kepada Majelis Hakim, sehingga permintaan tersebut dikabulkan.

Dalam kesempatan itu, terdakwa TY terlihat sangat puas setelah 35 bukti asli dicocokkan dihadapan Majelis Hakim. Hakim Ketua kemudian menjelaskan kepada Jaksa Januar bahwa pencocokkan bukti sebelum perkara diputus, diperbolehkan dalam Kitab  Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

“Dengan adanya mencocokkan bukti tersebut otomatis pembacaan vonis tertunda lagi, karena susunan bukti tersebut harus diatur lagi sebagaiman mestinya,” kata Ketua Majelis Hakim sambil mengetokan palunya bertanda sidang penundaan putusan ditutup.

Kepada awak media, terdakwa TY menjelaskan, bahwa perkaranya banyak kejanggalan hingga penting baginya untuk menunjukkan seluruh bukti kepada Majelis Hakim yang menangani perkaranya agar tidak salah dalam membuat putusan.

Diantara bukti – bukti itu kata TY, yang terpenting adalah bukti yang menjelaskan bahwa saksi pelapor, Naoki Wada tidak memiliki legilitas sebagai pelapor dalam perkara ini, karena dia bukan direksi di perusahaan PT. Matsuzawa Pelita Furniture Indonesia (PT. MPFI), tapi memalsukan surat seolah dia salah satu direksi.

“Lagian pemalsuan itu dibuatnya setelah dia (Naoki Wada) keluar dari perusahaan kami,” kata terdakwa TY yang berharap divonis bebas oleh Majelis Hakim.

TY menjelaskan, Naoki Wada keluar dari perusahaan pada 31 Maret 2018. Sedangkan BAP Pro Justicia saksi pelapor  terjadi pada tanggal 24 April 2018 dan 13 Desember 2018. Artinya, BAP Naoki Wada beserta turunannya seharusnya dianggap batal (void ab initio).

“Atau artian lain, saksi Naoki Wada tidak memiliki kualitas mewakilkan PT. MPFI dikarenakan saksi palsu ini telah mengundurkan diri dari perusahaan tersebut per tanggal 31 Maret 2018 lalu,” jelas TY.

Dari bukti-bukti itu, TY dalam nota pembelaannya yang dibacakan dalam persidangan sebelumnya mengatakan, bahwa berdasarkan fakta fakta yang terungkap dalam persidangan, alat bukti dan juga analisis fakta yang dipaparkannya dan memohon kepada Majelis Hakim untuk menjatuhkan putusan menerima dan mengabulkan Nota Pembelaan atau Pledoi terdakwa seluruhnya.

“Menyatakan seluruh surat dakwaan dan surat tuntutan JPU terhadap saya batal demi hukum dan menyatakan saya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan JPU melanggar Pasal  372 KUHP Tentang Tindak Pidana Penggelapan,” ungkapnya.

Atau tambah TY, menyatakan membebaskan dirinya dari segala dakwaan (vrijspraak) atau setidak tidaknya melepaskan dari segala tuntutan hukum (ontslag van alle rechtsvervolging) dan mengembalikan dan menempatkan kembali nama baik dan atau kedudukannya pada kedudukan semula.

“Memulihkan hak saya dalam kemampuan, kedudukan, harkat, dan martabat saya sebagai orang yang tidak bersalah yang telah dicemarkan nama baik saya dengan adanya penuntutan Jaksa yang menuntut 2 tahun penjara, karena diyakini menggelapkan uang Rp1,2 Miliar,” pungkasnya. (Bambang)

Comments

comments