Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Minggu, Juli 21, 2019
Halaman Home » Berita Daerah » Terjadinya Laka Banyak Disebabkan Rem Blong dan Ban
  • Follow Us!

Terjadinya Laka Banyak Disebabkan Rem Blong dan Ban 

BERITA SEMARANG – Menurunnya angka kecelakaan (laka) yang terjadi pada arus mudik dan balik Lebaran 2019 bisa dibilang suatu keberhasilan dari Pemerintah, dibanding tahun 2018 yang lebih tinggi angka terjadinya kecelakaan. Minimal tekad Pemerintah menggaungkan tagline ‘zero accident’ ada kemajuannya.

“Selamat untuk Kementerian Perhubungan, Kementerian PUPR dan Kepolisian RI sebagai stakeholder yang berkaitan langsung dengan kegiatan mudik tahunan,” ujar Wakil Ketua APTRINDO Jateng & DIY Tire & Rim Expert di Semarang, Rabu (19/6/2019).

Kini kemacetan jauh berkurang, praktis, hanya terjadi dari Jawa Tengah ke Jawa Barat dan DKI Jakarta saja. Ini semua berkat pembangunan jalan tol trans Jawa yang sudah hampir 100 persen rampung.

Menurutnya, beberapa faktor penyumbang terjadinya kecelakaan adalah si pengemudi kelelahan, ngantuk, tidak menguasai teknik mengemudi antar kota, rem blong dan ban meledak. 

“Menyoroti rem blong dan ban meledak, ada bermacam-macam jenis rem yang sering kita gunakan seperti antilock braking system, electonic brake pressure distribution, electronic traction control system, hydraulic braking system dan lainnya,” ungkap Bambang.

Karena secanggih-canggihnya teknologi yang digunakan, pasti ada kelemahannya. Yang terpenting pengemudi tahu kelemahan tersebut, sehingga bisa mengantisipasinya.

Bambang mencontohkan, kendaraan yang makin banyak penggemarnya seperti jenis automatic transmission, sebaiknya tidak hanya mengandalkan rem semata, terutama di jalanan naik turun dan berkelak-kelok, sebab jika rem diinjak terus menerus, kampas rem akan panas dan tidak pakem lagi alias blong. Maka perlu dilakukan pengoperan versneling. 

“Juga perlunya dilakukan pengecekan oli rem dan repair kit master rem, jangan sampai terjadi kebocoran, sehingga mengakibatkan terjadinya rem blong. Kondisi ban juga harus diperhatikan, jika ban meledak, biasanya sering menimbulkan kecelakaan,” jelas Bambang.

“Yang harus diperhatikan adalah manufacturing date (karena masing-masing pabrik berbeda tentang expired date produknya, tergantung komposisi bahan yang mereka gunakan ). Ban yang digunakan jangan yang terlalu tua,” lanjut Bambang. 

Selanjutnya tire placard atau tire specification (ukuran dan jenis ban) yang disarankan oleh produsen mobil, biasanya berupa sticker menempel di body mobil. Kemudian tire symbols yang biasanya tertera pada tiap-tiap dinding samping ban. Ada simbol kecepatan, indeks beban dan berbagai safety warning lainnya.

Produsen ban biasanya juga memberi peringatan tentang batas keamanan pemakaian ban dengan memberi tanda TWI (tread wear indicator) pada 4-6 posisi di lingkaran ban.

“Faktor terpenting adalah air pressure atau tekanan angin pada ban. Produsen tidak pernah memberikan kepastian angka mati terkait tekanan angin ini, sebab semuanya harus menyesuaikan dengan beban muatan yang akan ditanggung oleh ban tersebut,” kata Bambang.

Tekanan angin pada ban juga tidak boleh terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Tekanan ban yang terlalu tinggi meminimalisir daya cengkeram ban terhadap permukaan jalan, sedang tekanan ban yang terlalu rendah membuat ban cepat panas dan gampang meledak, juga menyebabkan bahan bakar jadi boros.

Kenapa justru ban mobil mewah yang sering meledak di jalan tol. karena biasanya second car itu jarang dipakai dan bannya pun jarang di training, bahkan jarang berubah posisi selama beberapa waktu.

Hal itu membuat bagian ban yang selalu berada di posisi bersentuhan dengan lantai mengalami pelapukan atau oksidasi paling maksimal. Posisi itulah yang biasanya meledak jika digunakan pada kecepatan dan kontinyuitas tertentu.

Dikatakan bahwa truk yang di parkir selama beberapa hari tanpa bergerak dengan beban muatan pun sering membuat bagian bannya yang bersentuhan dengan lantai mengalami kembung.  (Nining)

Biro Semarang

Comments

comments