Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Selasa, Oktober 22, 2019
Halaman Home » Berita Daerah » Dipanggil Polisi, Dua Guru Penganiaya Anak di Medan Mangkir
  • Follow Us!

Dipanggil Polisi, Dua Guru Penganiaya Anak di Medan Mangkir 

BERITA MEDAN – Dua tersangka penganiayaan terhadap MHD (16) siswa SMA Shafiyyatul Amaliyah Medan, Sumatera Utara, Cindy Claudyana Sembiring dan Syahyudi, kembali mangkir untuk yang kedua kalinya dari panggilan penyidik Subdit IV Renakta Polda Sumutera Utara, Senin (13/5/2019).

“Tadi kami sudah mendapatkan informasi dari Kompol Hariyani Kanit 1 Subdit IV Renakta Polda Sumut, bahwa tersangka sudah dipanggil dua kali tapi tidak hadir. Untuk itu, akan dikeluarkan Surat Perintah penjemputan paksa,” kata kuasa hukum keluarga korban, Saiful Anam kepada Beritaekspres.com di Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Dijelaskan Saiful, hal itu telah sesuai peraturan yang berlaku. Bila seorang tersangka tidak menghadiri panggilan penyidik hingga dua kali, maka dapat dilakukan penjemputan paksa. “Ya, info dari penyidik bahwa akan dikeluarkan surat penjemputan paksa sesuai dengan Pasal 112 ayat 2 KUHAP,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan Anam, keduanya bisa terancam jemput paksa dan bisa langsung ditahan. Karena, menurut dia, unsur dugaan tindak pidana diskriminatif dan penganiyaan terhadap anak sesuai dengan Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak telah terpenuhi. “Apalagi yang bersangkutan sudah dua kali mangkir dari panggilan polisi,” ulasnya Saiful.

Untuk itu, selaku kuasa hukum keluarga korban berharap polisi dapat secara objektif menggunakan kewenangannya untuk segera mengejar, menjemput paksa dan menahan kedua tersangka.

Dikatakan Saiful, kasus pengeniayaan itu bermula, saat MHD dan teman-temannya dianggap terlambat masuk kedalam kelas pada Rabu 3 Oktober 2018 lalu. Padahal tidak demikian adanya. Namun guru Wali Kelas MHD yang bernama Cindy Claudyana Sembiring justru melakukan kekerasan secara fisik dan psikis antara lain memukul kaki dengan menggunakan gagang sapu ijuk berkali-kali.

Pelaku juga tambah Saiful, membenturkan kepala korban ke dinding, mencekik leher dengan menggunakan dasi korban dan banyak lagi bentuk penganiayaan lainnya serta tindakan-tindakan yang mengarah kepada diskrimatif terhadap korban didalam kelas yang disaksikan oleh teman-temannya.

“Tidak hanya itu, salah satu guru bernama Syahyudi tanpa mengetahui jelas persoalannya, justru melakukan hal yang sama kepada Hadyan. Padahal anak tersebut bukan merupakan anak yang tergolong nakal,” pungkasnya. (Stave)

Comments

comments