Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Minggu, Maret 24, 2019
Halaman Home » Nasional » Mbak Tutut Akan Dampingi Transmigran Memajukan Bangsa
  • Follow Us!

Mbak Tutut Akan Dampingi Transmigran Memajukan Bangsa 

BERITA JAKARTA – Siti Hardijanti Rukmana, putri Presiden Soeharto yang akrab dipanggil Mbak Tutut, mengajak keluarga besar transmigran untuk mengembangkan peran dan potensi masing-masing guna memajukan bangsa Indonesia menjadi lebih baik.

Hal itu dikatakannya saat membuka Musyawarah Nasional IV Persatuan Anak Transmigran RI (PATRI) yang berlangsung di Hotel Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta yang berlangsung 12-14 Maret 2019.

Menurut Voice of America, program transmigrasi yang terjadi selama era Presiden Soeharto telah mengubah wajah Indonesia. Hingga 1984, sekitar 2,5 juta penduduk menjadi transmigran dan terus bertambah sampai tahun terakhir Orde Baru.

Berdasar data sensus 2010 menunjukkan ada 15,5 juta transmigran di Sumatera dan 4,5 juta lainnya tersebar di Kalimantan dan Papua yang berdampak transmigran bisa mengembangkan 3,500 desa dengan berbagai infrastruktur dan 30 desa itu mengalami perkembangan pesat menjadi Kabupaten/Kota.

“Transmigrasi itu meningkatkan harapan, karena membuat para transmigran memiliki tanah yang cukup untuk diolah guna menghidupi keluarga dan mencapai kesejahteraan,” kata Mbak Tutut.

Menurutnya, program transmigrasi tak hanya memperluas kemajuan, namun juga merekat persatuan dan kesatuan bangsa.

Program transmigrasi yang digagas Presiden Soeharto tidak hanya meningkatkan taraf hidup, tapi juga menggencarkan pembangunan luar Pulau Jawa, menyeimbangkan sebaran penduduk, pemerataan pembangunan, memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, dan memperkuat ketahanan nasional terutama transmigran perbatasan.

Selama itu, Presiden Soeharto selalu memberikan perhatian serius terhadap kehidupan transmigran dengan membangun sarana pendidikan di desa-desa transmigran, dan akses bagi anak-anak transmigran untuk menempuh pendidikan tinggi.

“Ini terlihat dari banyaknya anak-anak transmigran gelombang pertama yang menyelesaikan pendidikan tinggi di kota besar, dan berkarier di berbagai bidang profesi,” ujarnya.

Dijelaskan bahwa tahun 2004, anak-anak transmigran membentuk PATRI sebagai wadah pemikiran, pandangan, pembinaan, dan pengembangan sumber daya manusia, mitra pemerintah dalam pembangunan bidang ketransmigrasian.

Meneruskan kerja besar sang ayah, Mbak Tutut terus membina PATRI dan memberikan pemikiran tentang apa yang harus dilakukan desa-desa transmigran menghadapi persoalan saat ini.

“Salah satu yang paling memungkinkan adalah dengan bersama-sama membangun desa mandiri pangan dan energy di wilayah transmigran,” ungkapnya..  

Dikatakan, desa mandiri pangan dan energy akan mengurangi ketergantungan energi fosil secara nasional, memacu perkembangan daerah transmigran dan mengurangi kesenjangan Jawa dan luar Jawa. 

“Jika ini terwujud, kemakmuran akan hadir di tanah-tanah transmigran. Saya akan mendampingi para transmigran memajukan bangsa ini,” tandasnya.

Sementara Ketua Umum PATRI, Sugiarto Sumas mengatakan bahwa anak-anak transmigran benar-benar merasakan manfaat transmigrasi, meski pada awalnya tentu harus melalui proses berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian.

“Kini rata-rata keluarga anak-anak transmigran hidup berkecukupan, ada yang berkarier di militer dan mencapai bintang dua, ada yang jadi guru besar, ada pula bekerja di banyak sektor,” kata Sugiarto. (Nining)

Comments

comments