Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Kamis, Juni 20, 2019
Halaman Home » Bekasi Kota » Walikota Bekasi: Warga Bekasi Harus Cerdas Sikapi Perkembangan Media
  • Follow Us!

Walikota Bekasi: Warga Bekasi Harus Cerdas Sikapi Perkembangan Media 

BERITA BEKASI – Masyarakat harus cerdas khususnya warga Kota Bekasi dalam menyikapi perkembangan media seiring dengan perkembangan teknologi yang terkadang membuat masyarakat bingung ketika mendapatkan sebuah informasi. Mengiring sebuah informasi yang tidak diimbangi dengan pemikiran positif untuk mengedukasi masyarakat maka akan menghasilnyakan polemik dan keresahan ditengah masyarakat. Hal itu diungkapkan Walikota Bekasi, Rahmat Effendi menyikapi berbagai tudingan miring terhadap Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi.

“Dalam menyampaikan sebuah informasi untuk menjadi sebuah berita, seorang penulis harus memiliki sikap objektif. Dengan sikap objektif, maka hasil tulisannya pun akan objektif, tidak berat sebelah dan bebas dari pransangka,” terangnya ketika berbincang dengan Beritaekspres.com, Senin (11/2/2019).

Dikatakan Rahmat, tidak semua warga atau masyarakat dapat memahami persoalan yang terjadi dibawah seperti sering ditemukannya permasalahan terkait penggunaan Kartu Sehat Berbasis Nomor Induk Kependudukan (KS-NIK). Dalam program baik tersebut, Pemerintah Kota Bekasi tetap berkomitmen dengan programnya demi untuk membantu warganya guna mendapatkan layanan dasar kesehatan sesuai amanat Undang-Undang terhadap penyelenggaran Negara.

“Dalam menulis, jangan kita mudah untuk memojokan atau menyudutkan program baik yang tengah terus diperjuangkan dan dibenahi Pemerintah Kota Bekasi seperti program KS-NIK. Berikan dukungan positif, berikan edukasi masyarakat yang belum memahami, bukan malah menciptakan keresahan dan polemik ditengah warga masyarakat,” katanya.

Sampai saat ini sambung Rahmat, program KS NIK Kota Bekasi masih bisa dipergunakan dan komitmen Pemerintah Kota Bekasi tidak pernah berubah. Berbagai kendala atau persoalan yang sering ditemukan dilapangan adalah wajar dalam sebuah program yang bersifat menjalin kerjasama dengan para pihak seperti Rumah Sakit (RS) Swasta yang ada di Kota Bekasi atapun diluar Kota Bekasi.

“Tidak ada program yang begitu diluncurkan langsung mulus dan tidak ada juga program yang tidak dievaluasi seiring dengan perjalanannya, terlebih lagi pendopang programnya yang bersumber dari keuangan masyarakat yang dikelola Pemerintah Daerah,” jelasnya.

Situasi dan suhu politik sambung Rahmat juga menjadi salah satu faktor negatif dalam menyikapi sebuah program. Disinilah, tantangan dari seorang penulis dalam mengekpresikan tulisannya untuk menjadikan sebuah berita yang nantinya menjadi sebuah informasi kepada masyarakat. Sikap objektif dari seorang penulis itulah yang akan menentukan arah dan hasil tulisannya.

“Penulis (Jurnalisme) adalah suatu panggilan hidup dan bukan sekedar menguntungkan namun juga sekaligus mencerahkan. Untung, bisa dicari melalui tingkat kredibilitas yang tinggi dan bukan sekedar memberikan berita yang bombastis imajinatif serta menuju sasaran selera pasar saja,” ungkap Rahmat.

Apabila lanjut Rahmat, kita memberikan sebuah informasi dalam bentuk berita yang mempunyai tingkat kredibilitas yang tinggi, tentu masyarakat akan semakin percaya terhadap media yang kita garap. Setelah dipercaya bisa kita duga bahwa penjualan media itu akan makin tinggi. Pada akhirnya, kode etik bukanlah sesuatu yang dimaknai sebagai sesuatu yang sulit dilakukan namun harus dijadikan sesuatu yang mendarah daging disetiap tubuh penulis (Jurnalis).

“Kode etik jurnalistik bukanlah sesuatu yang membatasi kita dalam berekspresi dan mengungkapkan gagasan kita, namun lebih pada sesuatu yang mengarahkan kita dalam mengungkapkan gagasan secara tepat, akurat dan bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Berikan pencerahan tambah rahmat, kepada masyarakat yang mungkin belum memahami atas tudingan yang mungkin dialaminya berpatokan kepada aturan yang sudah ditetapkan Pemerintah. Buatlah informasi yang berimbang dan bersikap objektif bebas dari prasangka negatif atau pengiringan opini dengan bumbu-bumbu situasi suhu politik saat ini.

“Pemahaman masyarakat yang kurang, ditambah bumbu suhu politik lalu ditulis secara tidak objektif maka hasilnya pun akan negatif buntutnya akan membingungkan dan menciptakan keresahan ditengah masyarakat. Jadilah penulis yang cerdas dan objektif begitu juga dengan masyarakat cerdaslah dalam menyikapi sebuah informasi. Selamat Hari Pers Nasional ke-71, Semoga perkembangan pers di Indonesia semakin jaya dan tetap menjaga profesionalismenya,” pungkas Rahmat. (Indra)

Comments

comments