Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Rabu, Oktober 23, 2019
Halaman Home » Pendidikan » SMAN-01 Srono Banyuwangi Gelar Upacara Upanayana  
  • Follow Us!

SMAN-01 Srono Banyuwangi Gelar Upacara Upanayana   

BERITA BANYUWANGI – Siswa-siswi di Banyuwangi, memiliki cara tersendiri untuk mengawali proses pembelajaran yang dilaksanakan secara formal yaitu upacara yang disebut Upanayana. Upacara ini, dilaksanakan bagi seorang anak yang mulai memasuki masa Brahmacari (masa belajar menuntut ilmu pengetahuan) SMA Negeri 1 Srono yang berlangsung di Pura Agung Blambangan, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (12/8/2018) kemarin.

Upanayana adalah merupakan wujud atau peningkatan status seorang sisya (siswa) ke tingkatan yang lebih tinggi. Dalam artian mereka dilahirkan untuk keduakali secara spiritual dalam menuntut dan mempelajari ilmu pengetahuan yang lebih menekankan pada pembinaan mental dan moralitas.

“Acara ini diikuti oleh sejumlah siswa yang beragama Hindu di SMA Negeri 1 Srono, sekitar 26 siswa yang ikut,” terang Guru Pendidikan Agama Hindu SMA Negeri 1 Srono, Eko Prastyo ketika berbincang dengan Beritaekspres.com, Senin (13/8/2018).

Dijelaskan Eko, istilah upanayana berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya perkenalan. Jadi upacara Upanayana adalah masa perkenalan dimana peserta didik (siswa) baru dilingkungan sekolah yang dilakukan secara spiritual melalui pendekatan ritual maupun perkenalan yang bersifat fisikal dengan pengenalan kondisi sekolah secara keseluruhan.

“Artinya dalam pelaksanaannya ditekankan tentang proses penanaman dan pengenalan karakteristik kehidupan belajar, baik secara spiritual, psikologis, dan akademik,” jelasnya.

Disamping itu sambungnya, pelaksanaan upacara Upanayana ini lebih mengutamakan pembinaan spiritual, maka dalam penerapannya Upanayana lebih diprioritaskan pada pemahaman ajaran agama Hindu serta bagaimana praktik mengenai ajaran agama Hindu.

Dalam kegiatan ini lanjut Eko, selain memberikan beberapa program perkenalan terhadap peserta didik baru dengan lingkungan tempat belajarnya, tetapi juga sebagai upaya pendekatan spiritual atau pendekatan kerohanian.

“Hal ini ditandai dengan kegiatan inisiasi atau Pewintenan Saraswati yang bertujuan untuk memohon restu ke hadapan Dewi Saraswati untuk memperoleh anugerah kekuatan lahir bhatin (wahya adhyatmika) dalam memasuki lingkungan baru pada jenjang pendidikan formal,” katanya.

Harapannya tambah Eko, adalah dalam mengawali proses menuntut ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan selalu dalam tuntunan serta bimbingan Sang Hyang Aji Saraswati sebagai dewaning pangeweruh. Diyakini dengan anugrah dari Dewi Saraswati, maka peserta didik taat dan berbhakti.

“Sehingga dalam pembelajaran maupun praktik keagamaan dan kegiatan pembelajaran lainnya selalu berhasil, sukses, mendapatkan tuntunan sinar suci dan terbebas dari segala rintangan,” pungkasnya. (CR-5).

Comments

comments