Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Kamis, Desember 12, 2019
Halaman Home » Entertainment » KH. Abdul Hadi: Pepen Itu Ibarat Nangka Matang Dipohon
  • Follow Us!

KH. Abdul Hadi: Pepen Itu Ibarat Nangka Matang Dipohon 

BERITA BEKASI – Tokoh agama Kota Bekasi KH. Abdul Hadi mengajak para ulama untuk saling menjaga proses Demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Walikota Bekasi dan Gubernur Jawa Barat agar menjadi aman tenang dan nyaman.

Menanggapi fitnah serta berita hoax yang beredar sejak memasuki hingga mendekati hari pemungutan suara Pilkada Kota Bekasi, KH. Abdul Hadi menegaskan, bahwa itu sudah masuk pada Hukum Islam yang dilarang agama.

“Fitnah itu, termasuk Ghibah, haram hukumnya, karena agama tetap mengharamkan itu,” terang KH. Abdul Hadi ketika berbincang dengan Beritaekspres.com, Sabtu (23/6/2018).

Al-Fitnatu Asyaddu Minal Qatli. “Cara baik hasilnya baik, cara buruk hasilnya buruk, karena hidup ini dari kita untuk kita,” kata KH. Abdul Hadi menambahkan.

Diilustrasikannya, kenapa mobil bisa kenceng, karena ada baut dan murnya. Bautnya kecil murnya besar ngak akan bisa. Begitu juga dengan hidup punya aturan. Artinya, kalau bautnya ngak imbang dipaksakan akan slek.

KH. Abdul Hadi

Begitu juga sambung KH. Abdul Hadi, dengan hidup kita, jangan sampai ibarat baut tadi yang slek kalau tetap dipaksakan akan rusak.

Ketika itu, dipaksakan untuk mencari kelemahan orang lain, membunuh karakter orang lain, dipaksakan untuk membunuh karakter orang lain hasilnya pun, tidak akan baik, karena dilakukannya dengan cara-cara yang tidak baik.

Menurut KH. Abdul Hadi, ketika seseorang dihasut dan dibunuh karakternya maka orang yang dihasutlah yang lebih mulia dari pada orang yang hasut.

Al-hassidu Yahsyudu Walmasturiahsud, ketika orang itu dihasut dengki, itu lebih mulia dari pada orang yang hasut,” imbuhnya.

Bahkan kepada Pepen, KH Abdul Hadi menyarankan, agar Pepen tidak membalas atas Fitnah Hasut yang ditujukan dirinya.

“Kalau prinsip saya hidup, ente dihina jangan marah, karna tidak akan nurunin derajat. Begitu pun disanjung dan di puji jangan bangga, karena belum tentu naik derajat. Jadi semua itu akan kembali  pada diri kita sendiri,” ucapnya.

Bahkan saya berharap, agar Pilkada Kota Bekasi satu putaran, ngak cape dan ngak nambahin dosa seperti saling caci, saling hina dan fitnah.

Kedepan harapan Alim Ulama Kota Bekasi kepada Pepen (Rahmat Effendi-Red), agar jangan sampai mengambil kebijakan kebijakan yang salah, contoh seperti perkataan perbuatan dan lainnya.

Dia mencontohkan seperti kejadian pendirian Gereja Santa Clara yang menurutnya, Rahmat Effendi adalah orang yang terkahir menandatangin proses perizinan yang dianggap sudah sesuai ketentuan. 

“Karena sudah banyak yang tandatangan dari pihak masyarakat, RT/RW dan lainnya. Memang Pepen ada benarnya juga, karna dia sebagai Walikota harus bijak kepada seluruh masyarakat.

Namun sayangnya, ada hal yang menurutnya saat itu tidak tepat yang menyatakan bahwa “Andaikan kepala saya ditembak” yang sempat ramai yang harusnya tidak terjadi.

KH. Abdul Hadi pun juga berpesan kepada Rahmat Effendi untuk mendengar dan mengikuti Ulama. Jika adanya yang kurang tepat menurut ulama harus dilakukan Tabayyun.

“Kalau ngak tahu tanya, kalaupun kurang paham tentang hukum pun tanya kepada yang mengerti itu,” ucapnya menyarankan.

Diakui KH. Abdul Hadi, masuknya dalam rana Pilkada ini untuk menjaga agar tetap aman dan kondusif. Aman nyaman dan tentram.

“Jangan sampai mengklaim sebagai Kiai, Ulama, Ustad hal begitu biarkan saja, karena hidup ini yang tahu salah tidaknya adalah diri kita sendiri. Lebih baik kita berdoa bersama – sama agar Kota Bekasi ini tentram memasuki dan selesai Pilkada nantinya.

Adanya Isu yang dipasang pada spanduk atau isue selebaran hoax mulai tentang ijazah dan sebagainya untuk tidak disikapi.

“Sudah biar aja hal seperti itu tidak perlu digubris, karena masyarakat sudah cerdas dan tahu siapa Calon Walikota yang berkualitas dan kuantitas.

“Mana yang ada hasilnya kebukti mana yang belum. Ibarat Buah Nangka, Pepen ibarat Nangka yang matang dipohon wanginya udah kelihatan rasanya pun manis.

“Nangka muda yang dipantek atau dipaksa matengnya rasanya akan beda, itulah nangka muda, yang ujungnya tidak enak rasanya, akhirnya busuk,” tandas KH. Abdul Hadi. (Ndi)

Comments

comments