Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Jumat, November 15, 2019
Halaman Home » Pendidikan » Pelajar SMP Hamil Diluar Nikah Tamparan Keras Dunia Pendidikan
  • Follow Us!

Pelajar SMP Hamil Diluar Nikah Tamparan Keras Dunia Pendidikan 

BERITA JAKARTA – Kasus hamilnya siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang dihamili oleh siswa Sekolah Dasar (SD) di Tulungagung, Jawa Timur, merupakan tamparan keras bagi dunia pendidikan Indonesia. Tindakan dua anak yang sama-sama berumur 13 tahun itu tak layak dicontoh oleh anak seusianya.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Komisi X DPR-RI Abdul Fikri Faqih menyeru pemerintah agar menerapkan amanat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter ke dalam materi pembelajaran di sekolah.

“Regulasi ini sudah ada, tentu bukan hanya sekedar jadi tumpukan dokumen, tapi diterapkan untuk mencegah makin parahnya degradasi moral peserta didik kita,” tegas Fikri di Gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta, Kamis (24/5/2018).

Politisi PKS itu mengaku sangat prihatin atas peristiwa tersebut, dan meminta kasus tersebut tidak diekspos terlalu berlebihan, karena bukanlah contoh yang baik bagi anak-anak seusianya. 

“Cukup menjadi pembelajaran bagi setiap orang tua agar memberi perhatian terbaiknya pada anak, terutama di masa pematangan usia dan tumbuh kembang anak menjelang akil baligh mereka,” imbuhnya.

Dia mengakui, usia akil baligh anak-anak zaman sekarang menjadi lebih cepat, karena beragam faktor. Diantaranya asupan makanan dan input media yang dengan bebas mudah  diakses oleh anak, seperti televisi dan Internet. “Anak-anak lebih cepat dewasa karena disuguhi tontonan yang tidak sesuai umurnya,” tambah dia.

Selain itu, data pendidikan juga menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) di Indonesia, terutama di daerah melebihi 100 persen.

“Angka lebih dari 100 persen ini menunjukkan, masih banyak siswa SD yang bersekolah di luar usia 7-12 tahun, atau di atas itu. Contohnya anak SD di Tulungagung yang masih kelas 5 SD, namun usianya sudah 13 tahun,” tandasnya.

Menurut Fikri, untuk menilai  tingkat kedewasaan  anak sebaiknya tidak dilihat dari kelas berapa ia sekolahnya. “Lihatlah usianya, 13 tahun ini sudah baligh pada umumnya, jadi tentu mesti ada arahan khusus. Misal bagaimana pergaulan dengan lawan jenis agar sesuai tuntunan ahlak dan agama,” terangnya.

Di sisi lain, politisi dapil Jawa Tengah itu meminta kedua anak itu dilindungi oleh pihak terkait. “Hal ini demi memperbaiki kondisi psikologis kedua anak tersebut dan memberi kesempatan orang tua kedua anak itu mencari solusi terbaik secara kekeluargaan,” ujarnya. (mp/sf)

Sumber: Parlementaria

Comments

comments