Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Minggu, Oktober 21, 2018
Halaman Home » Opini » Hentikan Kebijakan dan Tindasan Fasis Tumbuhkan Terorisme
  • Follow Us!

Hentikan Kebijakan dan Tindasan Fasis Tumbuhkan Terorisme 

SALAM DEMOKRASI – Tindakan Terorisme dengan bom yang mengorbankan rakyat sipil yang tidak berdosa kembali terjadi, pada Minggu, 13 Mei 2018 bom meledak di Gereja Pantekosta dan Gereja Santa Maria di Surabaya, Jawa Timur. Ledakan Bom tersebut telah menewaskan 13 orang dan 43 orang lainnya mengalami luka-luka.

Selain itu, terjadi pula ledakan Bom di Rusunawa Taman Sidoarjo di hari yang sama, Jawa Timur, dan Peledakan Bom di Polrestabes Surabaya pada 14 Mei 2018. 

Atas seluruh tindakan terror bom tersebut yang telah merenggut nyawa dan melukai banyak masyarakat tidak bersalah, Front Perjuangan Rakyat (FPR) menyampaikan duka dan belasungkawa yang dalam terhadap korban dan keluarganya. Seluruh keluarga dan kerabat korban semoga selalu diberikan ketabahan. 

Tindakan terror yang terjadi saat ini dan seluruh bentuk terrorisme pada hakekatnya adalah tindakan yang merugikan rakyat. Aksi-aksi terrorisme tentunya tidak dapat dikaitkan dengan nilai-nilai ataupun tujuan dari suatu agama atau kepercayaan apapun. Karena tindakan terror yang demikian justru hanya akan memperburuk kondisi kehidupan rakyat, memancing pecahnya persatuan rakyat dan merugikan perjuangan rakyat Indonesia.

Aksi terror semacam itu, tentu bukan hal baru yang terjadi di Indonesia. Selama ini telah banyak catatan aksi-aksi terror bom yang terjadi dengan melibatkan banyak kelompok terroris di Indonesia. 

Aksi-aksi kelompok kecil terrorisme tersebut memiliki hubungan dengan kelompok terroris Internasional seperti ISIS, Al-Qaeda, JAD. Jaringan terrorisme yang dibentuk dan dikembangkan melalui skema War on Terror dan Pivot Asia milik imperialis Amerika Serikat. Skema tersebut bertujuan untuk melegitimasi aksi-aksi militer AS di berbagai negeri dengan dalih penumpasan terhadap terrorisme.

Meskipun pada perkembangannya, terdapat beberapa kelompok terroris yang keluar dari kontrol pemerintah AS secara langsung. Pembiakan kelompok terroris inilah yang menjadi dalang dari menyebarnya berbagai gerakan terorisme, termasuk di Indonesia.

Kondisi krisis dan kemiskinan yang semakin akut, keterbelakangan budaya yang terus dijaga oleh pemerintah membuat perspektif dari gerakan terrorisme lebih mudah diterima oleh sebagian rakyat. Hal tersebut merupakan ekspresi dari rasa furstasi dan putus asa.

FPR menyatakan bahwa gerakan teror semacam itu tidak akan mampu menjawab persoalan dan penghidupan rakyat. Gerakan teror hanya akan melahirkan perpecahan dan pelemahan perjuangan rakyat Indonesia. Begitu pun dengan wacana yang dilontarkan oleh pemerintahan Joko Widodo dalam merespon rentetan aksi terror bom ini.

Pemerintah hanya mempersempit akar masalahnya pada menguatnya gerakan dan paham radikal. Sehingga solusi yang diwacanakan oleh pemerintah adalah revisi dan penyempurnaan Undang-Undang Terorisme. Solusi yang diwacanakan pemerintah tersebut tidak akan mampu mengubah banyak kondisi yang ada. 

Pasalnya, akar masalah yang harus lebih utama diselesaikan oleh pemerintah adalah persoalan kemiskinan yang semakin akut dan memajukan kebudayaan rakyat. Hal tersebut tidak akan dapat dicapai tanpa perjuangan melawan dominasi imperialisme AS dan feodalisme di Indonesia.

Sementara itu, FPR menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk terus memperkuat persatuan di tengah hiruk-pikuk aksi terrorisme ini. Atas dasar itu, Front Perjuangan Rakyat (FPR) menyatakan sikapnya:

1.Hentikan tindakan terror berupa peledakan bom bunuh diri yang mengakibatkan rakyat tidak bersalah menjadi korban dan menambah penderitaan.

2.Menyampaikan Bela Sungkawa yang sedalam-dalamnya terhadap korban dan keluarganya.

3.Menuntut kepada pemerintahan Joko Widodo  Jusuf Kalla untuk segera bertanggung jawab atas seluruh aksi terrorisme. Pemerintah harus segera menghentikan seluruh kebijakan yang menyengsarakan rakyat dan berbagai tindakan fasis serta memenuhi seluruh hak demokratis, sosial dan ekonomi rakyat Indonesia.

4.Menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia agar tidak mudah terpecah dan terhasut terhadap isu-isu berbasis SARA yang menyulut kebencian serta perpecahan. Rakyat Indonesia harus memperkuat persatuan dan berjuang bersama.

Oleh: Rudi HB Daman Koordinator Front Perjuangan Rakyat (FPR)

Related posts:

Bagikan..Pin on PinterestShare on FacebookPrint this pageShare on StumbleUponTweet about this on TwitterShare on TumblrShare on LinkedInEmail this to someoneShare on RedditShare on Google+

Comments

comments