Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Selasa, November 12, 2019
Halaman Home » Parlementaria » Analisis Media Menjadi Barometer Efektivitas Pemberitaan
  • Follow Us!

Analisis Media Menjadi Barometer Efektivitas Pemberitaan 

BERITA JAKARTA – DPR-RI melakukan transformasi untuk mewujudkan parlemen modern yang didukung oleh unsur transparansi, keterwakilan dan penggunaan teknologi, khususnya keterbukaan informasi publik. Hal ini untuk memastikan kegiatan DPR-RI dalam menjalankan fungsinya terkomunikasikan dengan baik kepada masyarakat.

Hadirnya analisis media dapat menjadi barometer efektivitas suatu pemberitaan. Mengingat, analisis media merupakan suatu reaksi dari realita yang ada dalam masyarakat dan tercermin melalui pemberitaan media melalui analisa framing agar dapat memberikan pemahaman terhadap sebuah konten berita.

Demikian mengemuka dalam kunjungan benchmarking Analisis Media Bagian Media Cetak dan Media Sosial, Biro Pemberitaan Parlemen Sekretariat Jenderal DPR-RI ke Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat di Mataram, Senin (7/5/2018).

Diskusi dibuka oleh Kepala Sub Bagian Peliputan Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Ismulyadi didampingi Kabag Pemberitaan Ismunandar Eka Saputra dan Kabag Dokumentasi Seridana. Serta dihadiri oleh pejabat dan staf Biro Pemberitaan Parlemen Setjen DPR.

Dalam kesempatan itu, Kepala Sub Bagian Media Cetak Setjen DPR RI Sugeng Irianto mengatakan, DPR RI secara bertahap terus menata diri untuk mewujudkan visinya, sebagai lembaga perwakilan rakyat yang modern dan berwibawa.

Salah satunya adalah memastikan seluruh kegiatan kedewanan dapat tersosialisasikan dengan baik. Hadirnya analisis media menjadi penting dalam menentukan media coverage serta mengamati isu-isu aktual yang berpotensi mempengaruhi citra.

Senada, Kepala Sub Bagian Analisis Media Setjen DPR RI Ahyar Tibi mengatakan, membangun citra adalah salah satu tantangan dalam analisis media. Sebab,  menurut Ahyar, masih banyak kegiatan kedewanan yang belum tersosialisasikan dengan baik di masyarakat, sangat tergantung dari sudut pandang media cover masing-masing media. Artinya, tone terhadap pemberitaan maupun isu aktual menjadi penting.

“Kajian analisis media dijadikan dasar memberi solusi terhadap tone isu pemberitaan, bahkan mengubah tonedari negatif menjadi positif,” kata Ahyar.

Sementara itu, Ismulyadi turut mengungkapkan sejumlah hal yang dilakukan dalam membangun citra positif di tengah-tengah pemberitaan berkonten negatif di media mainstream.

“Diantaranya mengadakan pertemuan secara berkala dengan menghadirkan narasumber dari Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dan juga tentunya membangun hubungan baik dengan para wartawan seperti melibat dan mengikutsertakan wartawan dalam kegiatan dengan Gubernur,” ungkap Ismulyadi. (Par/ann,tra/sf)

Comments

comments