Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Selasa, September 25, 2018
Halaman Home » Bekasi Kota » Pertanyaan Nur Soal Santa Clara Dibungkam Rahmat
  • Follow Us!

Pertanyaan Nur Soal Santa Clara Dibungkam Rahmat 

BERITA BEKASI – Calon Walikota Bekasi Nomor Urut 2, Nur Supriyanto mulai menyerang Petahana Walikota Bekasi, Rahmat Effendi dengan mempertanyakan persoalan Gereja Santa Clara pada debat publik yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bekasi yang berlangsung di Gedung Serbaguna, Jalan Cut Mutiah, Margahayu, Bekasi Timur, Rabu (11/4/2018) kemarin.  

Diungkapkan Nur, persoalan pembangunan Gereja Santa Clara, Jatisampurna dan kasus Ciketing beberapa waktu lalu, menyisakan konflik sosial dimasyarakat. “Santa Clara, Jatisampurna dan kasus Ciketing, masih menyisakan persoalan sosial di masyarakat,” ungkap Nur saat sesi tanya jawab.

Dirinya berharap ketika nanti terpilih sebagai Walikota Bekasi, periode 2018—2023, persoalan perbedaan keyakinan umat tersebut, tidak akan kembali terjadi. “Kasus seperti ini jangan sampai terulang lagi, kalau nanti saya menjadi Walikota Bekasi,” ucap Nur.

Meski terlanjur melontarkan pertanyaan diluar tema debat publik mengenai Sumber Daya Manusia (SDM), ekonomi, Nur Supriyanto justru tidak memberikan solusi atas konflik perbedaan keyakinan tersebut.

Pertanyaan diluar kontek tema yang tiba-tiba dilontarkan Nur Supriyanto kemudian dipatahkan Rahmat Effendi. Dikatakan Rahmat, sebagai pemimpin sejatinya mampu berdiri diatas kaki semua ummat dan golongan.

Sepanjang prosedur kata Rahmat, terkait perijinan tempat ibadah yang diajukan telah ditempuh maka, Pemerintah wajib memberikan jaminan serta kepastian hukum kepada setiap warganya.

“Terkait konflik perbedaan keyakinan di Jatisampurna saya sudah sampaikan kepada Ustad Syaikhu, tentang bagaimana konteks kita sebagai kepala daerah. Lantas Pak Ustadz bilang, lakukan sesuai dengan ketentuan, aturan dan norma yang berlaku,” jelasnya.  

Kemudian sambung Rahmat, terkait Gereja Santa Clara, harus dapat berdiri diatas kaki semua umat dan golongan,” papar Rahmat menanggapi pertanyaan diluar tema dari Nur Supriyanto.

Selain itu, Rahmat juga mengklarifikasi pernyataan dirinya terkait “tembak kepala saya jika mencabut ijin Gereja” yang dipublish secara tidak utuh. Sedangkan, didalam pernyataan tersebut seharusnya masih ada kalimat lagi.

Kalimat yang dipotong tersebut lanjut Rahmat sempat menimbulkan penafsiran berbeda oleh sejumlah pihak. Bahkan, Pemerintah Kota Bekasi dianggap tidak transparan terhadap persoalan perijinan Gereja Santa Clara, sehingga menimbulkan konflik sosial di wilayah Bekasi Utara saat itu.

“Kalau ada kalimat yang menyebutkan tembak saja kepala saya, saya tidak akan cabut ijin Gereja tersebut. Pernyataan itu tidak utuh, karena masih ada lagi komanya. Saya akan cabut apabila ada keputusan atau kekuatan hukum tetap. Itu kalimat yang dihilangkan pada pernyataan saya tersebut,” tegas Rahmat.

Rahmat berharap agar para Paslon dapat mengaktualisasikan cara berdemokrasi dan berpolitik dengan baik dan benar sehingga, momen pesta demokrasi kali ini dapat bermanfaat bagi masyarakat.

“Politik itu adalah seni. Makanya ketika kita menjalankan politik berdemokrasi itu menggunakan hati. Sehingga, nantinya kita bisa konsisten dan komitmen,” pungkas Rahmat. (Boy/Ndi)

Related posts:

Bagikan..Pin on PinterestShare on FacebookPrint this pageShare on StumbleUponTweet about this on TwitterShare on TumblrShare on LinkedInEmail this to someoneShare on RedditShare on Google+

Comments

comments