Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Rabu, Oktober 18, 2017
Halaman Home » Megapolitan » Penyerangan Kantor Kemdagri Soal Sengketa Pilkada Tolikara
  • Follow Us!

Penyerangan Kantor Kemdagri Soal Sengketa Pilkada Tolikara 

BERITA JAKARTA – Penyerangan Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) dipicu sengketa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Tolikara, Papua. Pendukung pasangan calon Bupati dan calon Wakil Bupati (Paslon) Tolikara, John Tabo dan Barnabas Weya bersikukuh agar kandidatnya dilantik.

Padahal, gugatan sengketa Pilkada yang diajukan John dan Barnabas, ditolak Mahkamah Konstitusi (MK). Dengan begitu, Bupati dan Wakil Bupati terpilih dipegang Paslon Usman G Wanimbo dan Dinus Wanimbo.

“Kejadian sore hari ini, terkait dengan pilkada di Tolikara. Ringkasnya, si A lawan si B bersengketa, ujungnya ke MK. Ini contoh ketidaksiapan, tidak siap menang dan kalah,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Otonomi Daerah Kemdagri, Sumarsono di Ruang Pers, Kantor Kemdagri, Jakarta, Rabu (11/10/2017).

Dia menyatakan, putusan MK final dan mengikat dan harus dipatuhi pemerintah. Dia mengungkapkan, sekelompok massa sejak dua bulan lalu menyampaikan aspirasi di Kantor Kemdagri.

“Mereka sudah di sini hampir dua bulan. Pertama kali kita beri kebebasan untuk konsultasi. Sudah puluhan kali diterima. Ini bukti siapapun tamu menyampaikan aspirasi, kami terima dengan baik,” ungkapnya.

Akan tetapi, menurutnya, massa merasa tuntutan tak terpenuhi. “Hari ini mereka sampaikan aspirasi lagi. Mereka akan diterima Pak Dirjen Polpum dan saya. Tapi mereka maunya bersikukuh dengan Mendagri,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Polpum Kemdagri, Soedarmo menyatakan, sudah ada kesepakatan untuk duduk bersama. “Ternyata ada beberapa teman-teman mereka main lempar batu. Kita sesali perbuatan mereka seperti itu. Ini terjadi di kantor pemerintah,” katanya.

Dia meminta aparat keamanan untuk mencari massa yang menyerang. “Tindaklanjuti. Cari mereka, perlu dilakukan pemeriksaan. Kita itu negara hukum,” tegasnya.

Dia mengklaim pihaknya tak kecolongan. “Begitu kejadian kerusuhan, pamdal kontak aparat terdekat. Dari tim polisi datang, karena jumlah relatif kecil. Mereka tidak mampu menghalau atau mencegah agar ini tidak anarkis,” ucapnya.

Pamdal, menurutnya, bukan tidak berani mencegah. “Awalnya mencegah jangan sampai terjadi semakin parah. Dengan persuasif diberitahu. Justru diberi tahu baik-baik, mereka lakukan perusakan,” pungkasnya. (Carlos KY Paath)

Sumber: Beritasatu.com

Related posts:

Bagikan..Pin on PinterestShare on FacebookPrint this pageShare on StumbleUponTweet about this on TwitterShare on TumblrShare on LinkedInEmail this to someoneShare on RedditShare on Google+

Comments

comments