Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Selasa, Agustus 20, 2019
Halaman Home » Pojok Kasus » Nyanyi Bareng di Konser Slank, Mensos Sisipkan Pesan Kebangsaan
  • Follow Us!

Nyanyi Bareng di Konser Slank, Mensos Sisipkan Pesan Kebangsaan 

BERITA MOJOKERTO – Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa mengaku senang dan antusias bernyanyi bersama Slank dalam sebuah konser musik yang digelar di Pondok Pesantren Ammanatul Ummah, Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (17/9/2017) malam.

Konser bertajuk “Silaturahmi Merajut Kebangsaan” itu untuk yang pertama kalinya Khofifah bernyanyi diatas panggung bersama Slank dengan dituntun Kaka sang vokalis Slank mendaulat Mensos menyanyikan lagu “Ku Tak Bisa”. Ratusan Santri dan Slankers pun ikut bernyanyi sepanjang perempuan kelahiran Surabaya itu menyenandungkan lagu.

Di panggung kecil yang tak berjarak dengan penonton itu Khofifah melambaikan tangan pada ratusan Slankers yang datang diantaranya dari Mojokerto, Malang, Pandaan, Lamongan, Pasuruan, Tuban, Lumajang, Brebes dan berbagai kota lainnya. 

“Ini baru pertama kalinya saya sepanggung menyanyi bersama Slank. Kebetulan ini memang lagu favorit saya. Ku Tak Bisa dan dan Terlalu Manis. Itu yang sering saya nyanyikan,” ungkap Khofifah seraya tersenyum.

Khofifah yang tampak anggun dalam balutan gamis hitam dengan aksen manik-manik merah dan jilbab warna senada tampak larut dalam lagu. Usai menyanyi, tak lupa ia menyampaikan pesan-pesan Kebangsaan.

“Mari kita bangun toleransi di tengah perbedaan. Saling rangkul bukan saling memukul. Kita semua bersaudara maka jangan saling memecah belah. Jaga negeri ini, ukir prestasi dan harumkan nama bangsa,” pesan Mensos.

Bersama Kaka, Khofifah kemudian mengajak seluruh Santri dan Slankers menyanyikan lagu Ya Ahlal Wathon.

Lagu yang diciptakan Kyai Wahab Hasbulloh pada tahun 1916 ini menggema di tanah lapang disamping Ponpes. Lautan santri berbaju putih dan peci putih menyanyi dengan khidmat sambil mengepalkan tangan kanan mereka keatas.

“Lagu tersebut memiliki syair semangat kebangsaan sangat luar biasa. Coba simak liriknya ‘Pusaka Hati Wahai Tanah Airku, Cintaku dalam Imanku. Jangan Halangkan Nasibmu. Bangkitlah Hai Bangsaku’,” kata bersemangat.

Khofifah mengungkapkan, nasionalisme dan cinta tanah air penting ditanamkan kembali kepada anak bangsa. Maraknya gerakan radikal, isu berkedok agama namun bertujuan memecah-belah persatuan bangsa, bahaya miras, narkoba, pornografi dan lain-lain harus ditangkal dengan pendekatan-pendekatan yang kreatif.

Salah satunya seperti konser Slank yang merupakan gagasan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP). Konser ini bertujuan membangun penguatan nasionalisme dan kebangsaan melalui musik. Apalagi, lanjutnya, sebelum konser berlangsung anak-anak muda ini juga diberikan pemahaman dan wawasan Kebangsaan.

“Sosialisasi kebangsaan dan  kebhinekaan melalui musik ini merupakan formula tepat untuk segmen anak muda. Mereka bisa bergembira menonton konsernya, sambil mereka bisa menyerap pesan kebangsaannya. Ini sangat menarik dan tidak membosankan,” tuturnya.  

Santunan Kematian Korban Longsor Tambang

Sementara itu, sebelum menghadiri konser “Silaturahmi Merajut Kebangsaan”, Mensos menemui dan menyerahkan santunan kematian kepada empat keluarga ahli waris  korban meninggal longsor tambang pasir di Mojosari, Mojokerto.

Bertempat di Pendopo Kabupaten Mojokerto, Mensos menyampaikan santunan kematian sebesar Rp15 juta per jiwa. Total bantuan yang diserahkan untuk empat korban meninggal adalah Rp60 juta.

“Mari kita bermunajat bersama-sama semoga korban meninggal diberikan tempat terbaik di sisi Allah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran,  kekuatan dan ketabahan,” kata Khofifah seraya menengadahkan tangan.

Ahli waris yang terdiri dari istri para korban tampak menundukkan kepala dalam-dalam. Air mata mengalir dari kedua sudut mata mereka. Sementara bayi-bayi terlelap dalam dekapan sang ibu.

Sebanyak empat korban meninggal adalah Rajino (49) warga Dusun Jurangsari, Desa Belahan Tengah, Mojosari. Iswanto (35), Wijanarko (35), Kodir (60), ketiganya warga Dusun Glogok, Desa Sumbertanggul.

Seperti diketahui pada hari, Kamis (14/9/2017) sekira pukul 06.00 WIB, tebing setinggi 8 meter di tambang tradisional Disun Glogok, Desa Sumbertanggul, longsor. Sebanyak empat dari lima pekerja tewas tertimpa tanah dan pasir. Insiden ini terjadi diduga akibat kondisi tebing yang labil karena bagian bawah digali secara terus-menerus. (Red)

Comments

comments