Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Rabu, Oktober 18, 2017
Halaman Home » Bekasi Kota » Warga Bekasi Tolak Larangan Motor Melintas Ahmad Yani
  • Follow Us!

Warga Bekasi Tolak Larangan Motor Melintas Ahmad Yani 

BERITA BEKASI – Wacana larangan sepeda motor melintas di Jalan Ahmad Yani Bekasi Selatan Kota Bekasi menuai protes pengguna jalan setempat, Pasalnya jalan tersebut merupakan akses vital lalulintas bagi warga Kota Bekasi.

“Dengan tegas saya menolak pastinya, karena itu sama saja diskriminasi terhadap kami pengguna sepeda motor,” ungkap Rendy yang kesehariannya melintas di Jalan Ahmad Yani, Kamis (10/8/2017).

Selain Rendy, warga yang tinggal dibilangan Kota Bekasi Abdul Rohim pun menyayangkan bila rencana itu diberlakuakan dengan alasan akan banyak kerugian yang dirasakan warga.

“Masa saya harus berputar putar ke jalan khusus motor yang pastinya lebih jauh dan memakan waktu juga boros bensin,” ucap Rohim yang bekerja dikawasan Ruko Perkantoran Kali Mas.

Padahal lanjut Rohim, kemacetan dijalan itu bukan disebabkan lalu lalangnya sepeda motor, tapi putaran yang ada juga angkutan umum yang mangkal sembarangan penyebab kemacetan.

“Belum lagi Bus Trans Jakarta yang tidak ada Haltenya, mereka seenaknya menurunkan penumpang, seperti di depan Islamic Centre, belum lagi ojek online yang mangkal di jalan itu yang harusnya ditertibkan, bukannya melarang motor lewat jalan A Yani,” terangnya.

Seperti diketahui, Pemerintah Kota Bekasi menyatakan, tidak pernah menolak usulan dari Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan ihwal larangan sepeda motor di ruas Jalan Ahmad Yani. Namun usulan itu, masih dipertimbangan Pemerintah Kota Bekasi.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi Yayan Yuliana mengatakan, Pemerintah Daerah masih mengkaji dampak dari larangan sepeda motor di ruas Jalan Ahmad Yani. Meski demikian, Yayan memastikan usulan tersebut sangat sulit dilakukan karena ruas jalan tersebut sentral bisnis dan Pemerintahan setempat.

“Bila Jalan Ahmad Yani dilarang untuk dilintasi kendaraan roda dua akan beresiko tinggi. Selain sentral bisnis dan Pemerintahan, jalan itu juga sebagai penghubung antara wilayah utara dan selatan,” jelas Yayan.

Yayan mengungkapkan, butuh kajian yang mendalam untuk menerapkan usulan itu. Salah satunya adalah pengalihan kendaraan roda dua yang biasa melintasi ruas Jalan Ahmad Yani. “Kita juga harus tahu solusi kendaraan roda dua akan dialihkan kemana,” ujar Yayan.

Sementara itu, Ketua Dewan Transportasi Kota Bekasi (DTKB) Harun Al-Rasyid menuding, wacana larangan itu ada kepentingan bisnis TransJabodetabek trayek Summarecon Bekasi-Hotel Indonesia Jakarta. Harun melihat, tujuan BPTJ terhadap usulan itu adalah ingin memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum.

“Justru nanti dikhawatirkan bukannya beralih ke angkutan umum, justru sepeda motor malah menggunakan mobil pribadi. Implikasinya, ruas Jalan Ahmad Yani akan dipenuhi kendaraan roda empat,” kata Harun.

Atas dasar itulah, kata Harun, pihaknya menolak usulan BPTJ. Dia menilai, hasil kajian konsultan itu tidak mewakili kebutuhan pengendara di Kota Bekasi. Apalagi, kemacetan yang terjadi di jalan tersebut tidak akan mempengaruhi kemacetan di Jakarta. 

“Kajian yang digunakan BPTJ janggal. Alasannya mereka menyebut bahwa kecepatan kendaraan di Jalan Ahmad Yani hanya 12 Kilometer per jam. Padahal kenyataannya dari hasil kajian DTKB di jalur itu tidak pernah macet, kecuali saat ada pertandingan bola di Stadion Patriot Chandrabaga,” jelas Harun.

Selain itu, Jalan Ahmad Yani merupakan jalur tertib lalu lintas yang selalu diawasi oleh petugas kepolisian dan Dinas Perhubungan Kota Bekasi. Bahkan, jalur tersebut bukan jalan penghubung ke Jakarta langsung. 

“Ruas jalan yang padat justru ada di Jalan KH Noer Alie Kalimalang dan Jalan Sultan Agung saat jam sibuk. Kedua ruas jalan itulah yang menghubungkan Kota Bekasi dengan Provinsi DKI Jakarta,” ungkapnya.

Wacana pelarangan sepeda motor melintas di Jalan Ahmad Yani sempat dibahas dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Rencana Umum Pengendalian Pembatasan Sepeda Motor di Jabodetabek. Diskusi itu digelar di Menara Bidakara, Jakarta Selatan pada Selasa (8/8) lalu. (NDI)

Related posts:

Bagikan..Pin on PinterestShare on FacebookPrint this pageShare on StumbleUponTweet about this on TwitterShare on TumblrShare on LinkedInEmail this to someoneShare on RedditShare on Google+

Comments

comments