Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Sabtu, Desember 14, 2019
Halaman Home » Pendidikan » Orang Tua Siswa di Kota Bekasi Keluhkan Harga Seragam Sekolah
  • Follow Us!

Orang Tua Siswa di Kota Bekasi Keluhkan Harga Seragam Sekolah 

BERITA BEKASIPasca pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online, para orangtua murid di Kota Bekasi, Jawa Barat, mengeluhkan tingginya biaya pendidikan disekolah negeri. Pasalnya, para orang tua siswa harus membeli sejumlah keperluan sekolah yang disediakan pihak koperasi sekolah.

Salah seorang wali murid, Fajar membeberkan biaya yang dikeluarkan bagi anaknya yang baru diterima di SMP negeri, sekitar Rp800 ribuan. Pengeluaran itu untuk membayar seragam baju batik, olahraga, topi dan dasi yang berlogo sekolahnya.

Menurut Fajar yang berprofesi sebagai buruh harian lepas disalah satu perusahaan swasta terbilang mahal. Selain itu, kata dia, kualitas bahan sergam sekolah tidak sebanding dengan harga yang ditentukan tersebut.

“Harganya sih mahal buat ukuran saya yang cuma bekerja sebagai buruh kasar di perusahaan swasta. Kualitas barangnya juga kurang bagus mas,” ungkapnya.

Pihak sekolah lanjut Fajar terkesan memaksakan menjual seragam sekolah peserta didik. Padahal, seragam sekolah dengan kualitas lebih baik bisa dibeli diluar.

“Kenapa siswa tidak boleh membeli sergam sekolah diluar sekolah? Kalau tidak memaksa kenapa sekolah mengarahkan siswanya ke koperasi yang ada disekolah,” katanya.

Menurut Dia, jika tidak membeli seragam melalui koperasi tentunya akan ada dampak psikologi terhadap anaknya. Dan hal itu bukan menjadi rahasia umum lagi bagi para orangtua murid yang menolak kebijakan sekolah.

“Mekipun bagi saya mahal, mau dibilang apa lagi mas. Kalau tidak dibeli dampaknya nanti kepada anaknya saya bagaimana? Kalau saya beli bagaimana dengan biaya hidup keluarga saya,” katanya lirih.

Selain itu, Fajar juga mempertanyakan program Pemerintah sekolah gratis. Sebab, biaya pendidikan disekolah negeri sekalipun ternyata masih terdapat berbagai pungutan.

“Katanya pendidikan gratis, tapi nyatanya orangtua murid harus mengeluarkan kocek yang cukup besar untuk membeli perlengkapan sekolah,” tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi, Inayatulah ketika dihubungi menjelaskan bahwa, saat ini pihaknya belum memutuskan harga seragam sekolah bagi peserta didik bagi peserta didik baru.

Menurut Inay, keputusan itu diputuskan melalui hasil musyawarah yang dilakukan pihak sekolah dan komite sekolah. Apabila terdapat sekolah yang berani menjual perlengkapan sekolah sebelum dilakukan musyawarah, maka itu menyalahi ketentuan.

“Harus ada kesepakatan bersama dulu antara kolah dan kommite sekolah untuk memutuskan harganya. Bagi siswa kurang mampu harus diperhatikan dan seragam yang dijual disekolah jangan bersifat memaksa,” ucapnya.

Sementara untuk pakai batik, Inay mengaku, pihaknya hanya melanjutkan program tersebut. Sebab, program pengadaan pakaian batik untuk masing-masing murid tersebut sudah mulai dari kepemimpinan Rudi Sabarudin di Dinas Pendidikan.

Namun, ketika dipertayakan soal dasar ketentuan pematokan harga pakaian batik tersebut, Inay mengaku belum mengatuhui secara pasti ketuntuan harga batik tersebut.

“Pihak ketiga yang melakukanakan pengadaan pakaian batik tersebut itu merupakan komunitas batik bekasi (Kombas). Kalau secara detail belum saya pelajari aturanya, tapi kita hanya melanjutkan program itu aja,” pungkasnya. (Rob/Red)

Comments

comments