Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Rabu, Agustus 21, 2019
Halaman Home » Hukum » Polri Bantah Penetapan Tersangka Hary Tanoe Beraroma Politis
  • Follow Us!

Polri Bantah Penetapan Tersangka Hary Tanoe Beraroma Politis 

BERITA JAKARTA – Pengacara bos MNC Group Hary Tanoesoedibjo, Hotman Paris Hutapea menganggap penetapan tersangka kliennya bermuatan politis.

Menanggapi hal itu, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, dalam menetapkan tersangka, polisi tidak melihat politis atau tidak, melainkan merujuk pada barang bukti yang ada.

“Kita tidak melihat politik atau tidak politik, tapi yang penting penyidik melihat ada bukti yang sah,” terang Setyo di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (24/6/2017).

Menurutnya, sesuai dengan Pasal 184 KUHP tentang alat bukti yang sah. Jika sudah ada alat bukti maka tentu kasusnya akan diproses.

Polri pun mempersilahkan jika pihak Hary Tanoe mau melakukan Praperadilan atas penetapan tersangka ini. “Enggak masalah itu memang hak dia. Enggak ada masalah semua sesuai prosedur,” katanya.

Penyidik Polri juga meyakini bahwa punya bukti kuat untuk menetapkan Hary sebagai tersangka. “Penyidik meyakini kuat, sesuai dengan Undang-Undang ITE,” ungkapnya.

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri metetapkan Hary sebagai tersangka dalam kasus dugaan mengancam Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto melalui media elektronik.

Dalam kasus ini, Hary Tanoe diduga melanggar Pasal 29 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) mengenai ancaman melalui media elektronik.

Penyidik akan memeriksa Hary Tanoe sebagai tersangka pada awal Juli 2017. Pihak Imigrasi sudah melakukan pencegahan berpergian keluar negeri terhadap Hary Tanoe atas permintaan polisi. Pencegahan dilakukan untuk 20 hari ke depan per tanggal 22 Juni 2017.

Dianggap politis

Menurut Hotman, isi SMS Hary Tanoe kepada Yulianto sama sekali tidak mengandung unsur ancaman. “Isi sms Hary Tanoe bersifat umum dan idealis dan tidak mengancam seseorang,” ujar Hotman.

Petikan isi SMS yang dikirim Hary kepada Yulianto, yaitu “Apabila saya pimpinan negeri ini, maka di situlah saatnya Indonesia akan diubah dan dibersihkan dari hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya”.

Isi SMS Hary Tanoe juga menyebut, “kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar”.

“Jadi Hari Tanoe dalam SMS tidak pernah menyebut Jaksa Julianto sebagai ‘yang salah’, dan tidak pernah menyebut sebagai ‘yang tidak bersih’,” kata Hotman.

Dengan demikian, Hotman mempertanyakan sangkaan Pasal 29 UU ITE mengenai ancaman melalui media elektronik yang menjerat Hary.

Dalam pasal tersebut disebutkan, ancaman yang dimaksud memiliki unsur kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara khusus kepada pribadi tertentu.

Sementara itu, menurut Hotman, isi SMS Hary tidak ditujukan untuk mengancam Yulianto.

“Kami dan publik menunggu, apakah benar terjadi dugaan penganiyaan hukum bermotifkan politik oleh lawan-lawan politisi dan oknum pimpinan partai yang kebetulan dekat dengan kekuasaan sekarang ini,” kata Hotman. (Red/Kmp)

Comments

comments