Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Selasa, April 23, 2019
Halaman Home » Berita Daerah » 48 Tahun Menunggu, Kini Umat Hindu Barurejo Melaspas Pura
  • Follow Us!

48 Tahun Menunggu, Kini Umat Hindu Barurejo Melaspas Pura 

BERITA BANYUWANGI – Ribuan umat Hindu di Banyuwangi Selatan memadati areal Pura Candi Merak Marga Mukti di Dusun Senepo Lor, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, guna mengikuti upacara Pamlaspas Pura, Jumat (9/6/2017) kemarin.

Upacara pamlaspas diawali dengan melaksanakan ngarak tirta berkeliling kampung yang diikuti umat Hindu Banyuwangi dan beberapa umat Hindu yang datang dari Pulau Bali dan dilanjutkan dengan upacara puncak yang diisi dengan persembahyangan bersama. 

Sehari sebelum melaspas, di Pura ini juga digelar upacara mepandes massal (potong gigi red).  Dengan diikuti oleh 100 umat Hindu setempat. 

Upacara dipuput oleh dua sulinggih, masing-masing adalah, Ida Pandhita Dharmika Sandi Kertayasa dari Griya Anom Sari, Pesanggaran, Banyuwangi dan Ida Pandhita Empu Nabe Rekadharmika Sandiyasa dari Griya Kertosari Kayu Mas Kaja, Denpasar.

Suasana tangis haru pun pecah, ketika pura yang mulai dibangun pada tahun 1969 ini mulai diupacarai. 

Setelah menunggu hampir 48 tahun lamanya, impian umat Hindu yang ada di Dusun Senepo Lor, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung dengan memiliki pura tempat suci yang sangat megah, akhirnya terwujud.

Kepada Beritaekspres.com, sesepuh umat Hindu Barurejo, Bambang Mispan menjelaskan, Pura Candi Merak Marga Mukti diempon oleh 114 KK. Seluruhnya merupakan umat Hindu Jawa. Pura ini mulai dibangun sekitar tahun 1969.

“Awalnya pura kecil, hanya Padmasana. Lalu, kita mencicil dengan membeli lahan lagi hingga empat kali secara swadaya,” terangnya, Sabtu (10/6/2017).

Kemudian sambungnya, pada tahun 1975 mulai pembangunan lagi. Mendirikan dua pelinggih, masing-masing, taksu dan panglurah, termasuk bale pawedan.

Pembangunan terus berlanjut hingga 1986, mendirikan kori agung dan tembok penyengker. “Tapi saat itu, bangunannya belum megah. Sangat sederhana,” jelasnya.

Karena kondisi ekonomi, umat nyaris putus asa mampu membuat pura yang megah. Akhirnya, berkat donatur umat dari Bali, pembangunan hingga perluasan pura bisa terwujud.

Sejak Juli 2016, dilakukan pemugaran total. Mulai Padmasana, taksu, panglurah, kori agung hingga tembok penyengker. Termasuk, membangun sebuah candi di jeroan.  “Candi ini untuk menstanakan leluhur. Sesuai filosofi Jawa,” katanya.

Nama pura ini bermakna jalan untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa dan leluhur. Meski bangunanya baru selesai 90 persen, proses melaspas tetap dilakukan. Sebab, bangunan lama sudah dirombak total.

Pemelaspas kali ini juga dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Klungkung, I Made Kasta. Ikut hadir Bendesa Adat Tanjung Benoa yang juga merupakan anggota Komisi II DPRD Badung, Made Wijaya.

Mewakili Pemkab Klungkung, Wakil Bupati (Wabup), Kasta berharap pura yang baru dibangun ini menjadi tempat meningkatkan sradha bakti umat Hindu Jawa.

“Kami dengan umat di Jawa ini sama-sama satu leluhur. Jadi, kami mendukung penuh pembangunan pura untuk pengembangan umat di Banyuwangi,” katanya.

Sementara itu, Made Wijaya mengatakan pihaknya ikut mendukung pembangunan candi. Ia berharap Pemkab Badung bisa ikut mendukung pengembangan umat di Jawa. 

“APBD Badung itu besar. Tentunya, bisa membantu umat Hindu di Jawa. Hanya, aturannya yang perlu kita lihat,” pungkas politisi Gerindra ini. (Eko Prastyo)

Biro Banyuwangi

Comments

comments