Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Kamis, Agustus 22, 2019
Halaman Home » Berita Daerah » Suasana Proses Kreatif Jelang Dharma Shanti Tinggkat Provinsi
  • Follow Us!

Suasana Proses Kreatif Jelang Dharma Shanti Tinggkat Provinsi 

BERITA BANYUWANGI – Menjelang perhelatan Dharma Shanti Nyepi, tahun baru caka 1939, tingkat Provinsi Jawa Timur yang akan diselenggarakan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sejumlah persiapan pun sudah mulai dilakukan sejak, Rabu (18/4/2017) kemarin.

Bertempat di Gelanggang Seni dan Budaya Taman Blambangan, sejumlah peserta tampak sibuk melakukan gladi kotor. Alunan gamelan khas Banyuwangi dan lenggak-lenggok tubuh para kawula muda memecah keheningan sore itu.

Mereka dengan penuh keseriusan berlatih olah gerak untuk mengisi acara tahunan tersebut. Dari sekian banyak pengisi acara, ada satu pagelaran seni yang bakal dijadikan special performance oleh panitia, yakni tari kolosal bertajuk ‘Kidung Maha Wilwatikta’.

Dalam proses penggarapannya, tari ini ditangani langsung oleh sejumlah seniman muda yang memang berkecimpung di dunia seni tari dan keaktoran teater. Seperti, Koreografer, Dwi Agus Cahyono dan Julaidik, sedangkan skenario dan sutradara, Jingga Kelana.

Ditemui di kediamannya seusai gladi, pria yang akrab disapa Jingga ini awalnya terkejut ketika didaulat untuk menentukan judul dan skenario oleh panitia.

“Ya, saya awalnya merasa terkejut mas, karena baru kali ini saya menulis naskah untuk tari. Kemarin saat dikasih tahu dapat tugas itu, sempat enggak punya gambaran sama sekali,” terang Jingga Kelana saat ditemui Beritaekspres.com, Kamis (20/4/2017) di Dusun sambirejo, Desa Sambimulyo, Bangorejo, Banyuwangi.

Lebih lanjut, Jingga mengungkapkan, membutuhkan waktu beberapa hari untuk menentukan judul dan skenario yang akan digarap. Meski demikian, ia menolak jika naskah tari tersebut adalah murni pemikirannya.

Pria berumur 26 tahun itu mengaku mendapat inspirasi dari kawan-kawannya di Solo dan Semarang.

“Saya terinspirasi oleh perempuan-perempuan hebat, seperti Mbak Intan Winda Kurnia Wardani, Mbak Mella Kawuri, keduanya dari ISI Surakarta dan Mbak Martha Ardi Aria dari Ngesti Pandhawa, Semarang. Seandainya tidak ada mereka bertiga, mungkin akan lain skenario dan tokoh utamanya,” selorohnya sambil tertawa.

Perlu diketahui, Dharma Shanti Provinsi Jawa Timur tahun ini bertema ‘Jadikan Catur Brata Penyepian Memperkuat Toleransi Kebhinekaan Berbangsa Bernegara Demi Keutuhan NKRI’ yang akan dipusatkan di Gelanggang Seni dan Budaya (Taman Blambangan) Kabupaten Banyuwangi.

Tema itu itulah yang melatar belakangi untuk dijadikan sebagai dasar acuan oleh arkeolog jebolan Universitas Udayana Denpasar, Bali dalam menulis skenario.

“Seandainya ada waktu lebih untuk latihan, sebenarnya Mbak Intan Winda ingin bertandang ke Banyuwangi dan ikut ambil bagian dalam pementasan tari kolosal ini”, tandasnya.

Sementara itu, Drs. Suminto, MM, selaku ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Banyuwangi dan sekaligus sebagai ketua Panitia Darma Shanti Nyepi tahun 2017, lebih lanjut mengungkapkan, pentingnya untuk tetap meningkatkan persatuan dan kesatuan melalui budaya, kususnya karya seni.

‘’Melalui momentum kali ini, kami berusaha untuk mengingatkan kembali, bahwa kita semua perlu memupuk persatuan dan kesatuan. Salah satunya melalui seni budaya yang sejatinya sudah kita miliki dari dulu,’’ ungkap Suminto

Tambah dia, pada dasarnya, toleransi kita harus bersifat universal, toleransi yang berlaku untuksemuanya. Seperti ajaran Vasudaiva Kutumbakam, yang berarti, semua yang ada dalam rumah kitapun adalah keluarga. Apalagi sesama manusia.

‘’Toleransi kita harus bersifat universal, toleransi yang berlaku untuk semuanya. Karena semua yang ada dalam rumah kita pun adalah keluarga, apalagi sesama manusia,’’ pintanya. (Eko)

Biro Banyuwangi

Comments

comments