Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Rabu, Agustus 21, 2019
Halaman Home » Megapolitan » Dr. Lusia Mangiwa: Peran Pekerja Sosial Dalam Persoalan TKI
  • Follow Us!

Dr. Lusia Mangiwa: Peran Pekerja Sosial Dalam Persoalan TKI 

BERITA JAKARTA – Berbagai alasan mendorong seseorang menjadi pekerja Migran antara lain, kemiskinan karena percerain (disharmonisasi keluarga) sebagai tulang punggung dalam keluarga atau menjadi orang tua tunggal?. Atau keinginan melepaskan diri dari dari kondisi ekonomi yang dianggapnya terpuruk guna mencari alternatif pekerjaan seperti kasus yang dialami Siti Aisyah belum lama ini.

Dari keterangan Ibunda Siti Aisyah, Benah mengungkapkan, bahwa anaknya Aisyah bekerja di Batam berjualan baju dan pakaian dalam perempuan. Ibunya pun, tidak mengetahui jika anaknya itu bekerja di Malaysia. Padahal, jika sesuai prosedur untuk menjadi pekerja Migran itu harus ada keterangan ijin dari pihak keluarga.

“Dalam proses Imigrasi seringkali muncul kerawanan sosial seperti inilah yang saya amati bahwa banyak kerawanan sosial yang sering dialami pekerja Migran Indonesia di luar Negeri seperti Siti Aisyah,” terang pakar masalah TKI, Dr. Lusia Mangiwa ketika berbincang dengan Beritaekspres.com, Kamis (6/4/2017).

Dia berbohong kata Dr. Lusia, bahwa dia diberikan pekerjaan peran di soting reality show dengan bayaran sebesar 400 ringgit atau senilai Rp1,2 juta rupiah untuk melakonkan perkerjaan. Dan dan ternyata, Siti Aisyah disalahgunakan untuk melakukan sesuatu yang dia tidak mengerti bahwa pekerjaan berdampak hukum.

Dalam kasus itu sambung Dr. Lusia, pemahaman Siti Aisyah bahwa air yang ada dalam botol itu merupakan baby oil yang di perintahkan untuk mengusap muka sasarannya. “Nah, seandainya Aisyah ini punya pendidikan, tentunya dia tidak akan semudah itu menerima tawaran dan melakukannya,” terang Dr. Lusia.

Namun disatu sisi lanjut Dr. Lusia, dia terdesak oleh kebutuhan ekonomi dengan tawaran uang, makà dia menganggap ini salah satu pekerjaan yang mudah dikerjakan dan tidak berisiko,” tambah Dr. Lusia yang juga salah satu Aktivis Prempuan Alumni dari Universitas Indonesia (UI) ini.

Masih kata Dr. Lusia, dia juga tidak paham bahwa dia diobyekkan jadi pekerja Migran. Kebanyakan dari mereka tidak tahu bahwa mereka selalu diintai persoalan-persoalan yang menjadikan mereka korban dan merelakan dirinya demi kelangsungan hidup keluarganya. 

“Jadi saya menegaskan disini bahwa Siti Aisyah itu dipeperalat, sehingga dia menjadi korban,” ungkapnya.

Oleh karena itu, disinilah peran pekerja sosial sangat dibutuhkan sebagai advokasi melakukan tindakan secara langsung mewakili atau mendukung untuk menjamin keadilan sosial atau sebagai perwakilan eksklusif untuk sebuah perkara dan dapat mempengaruhi sistem yang tidak adil terhadap korban.

Selain itu tambahnya, membantu korban untuk menegakkan hak-hak korban untuk menerima pelayanan kemanusian seperti pendampingan hukum, pendampingan psikologis agar tidak tertekan dan lain-lain.

“Korban dibantu untuk menggunakan prosedur yang tersedia atau mengalami hambatan-hambatan dalam menjalani proses hukum,” tandasnya. (Zde)

Comments

comments