Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Senin, Agustus 26, 2019
Halaman Home » Opini » Rita Pranawati: Panti Bukan Tempat Pembuangan Anak
  • Follow Us!

Rita Pranawati: Panti Bukan Tempat Pembuangan Anak 

KABAR duka tentang anak panti datang dari Demak, Jawa Tengah, dan Pekanbaru, Riau, Februari lalu. Di Demak, tiga anak panti dikabarkan kekurangan gizi. Dua di antara mereka harus dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya semakin buruk. Mereka hidup dalam kondisi kekurangan. Si pemilik dan pengelola panti dengan dua mobil cukup mewah, tampaknya, abai terhadap kesehatan mereka. Mereka seakan sekadar ’’memelihara’’ dan ’’mengambil manfaat’’ dari status anak untuk kepentingan pribadi.

Sementara itu, di Pekanbaru, seorang bayi 18 bulan dibawa ke rumah sakit dan akhirnya meninggal dengan luka bekas kekerasan di tubuhnya. Selain itu, 17 anak berusia 3–9 tahun disembunyikan pengasuh panti yang sudah dijadikan tersangka. Pengelola panti telah abai pada hak anak dan misi pengasuhan alternatif.

Kondisi tersebut tentu kontras dengan kondisi kebangsaan. Memuliakan anak yatim ada dalam berbagai ajaran agama. Sangatlah biadab ketika ada orang yang mencelakai anak-anak yatim. Apalagi yang abai dan melakukan kekerasan adalah pengasuh panti yang selama ini menjadi orang tua pengganti sementara bagi mereka.

Karena itu, yang terjadi di Demak dan Pekanbaru tersebut merupakan potret betapa ’’para pengasuh’’ telah sengaja menghimpun anak yatim untuk keuntungan pribadi. Mereka kurang memperhatikan standar hidup untuk anak-anak di panti. Ada panti yang kondisinya sangat kumuh dan ada yang saling berebut makanan karena minimnya ketersediaan makanan.

Menjaga Rumah Besar

Panti asuhan merupakan rumah besar sementara bagi mereka yang papa. Pilihan itu tentu tidak mereka kehendaki. Namun, jalan ’’takdir’’ menuntun mereka untuk hidup di panti sosial asuhan anak. Diharapkan, mereka bisa kembali ke keluarga karena 90 persen anak yang tinggal di panti sebenarnya masih memiliki salah satu atau kedua orang tua.

Jika mereka tidak bisa kembali ke orang tuanya, panti diharapkan berperan mempertemukan anak-anak yatim tersebut dengan keluarga asuhnya yang baru. Bagaimanapun, anak-anak membutuhkan keluarga.

Sebagai rumah besar sementara bagi anak-anak yatim, sudah seharusnya panti asuhan menerapkan Standar Nasional Pengasuhan Anak (SNPA). SNPA yang merupakan Permensos Nomor 30 Tahun 2011 mengatur prinsip pengasuhan alternatif, standar respons yang tepat untuk anak asuh, standar pelayanan pengasuhan, dan standar kelembagaan yang baik.

SNPA mengatur dengan terperinci tentang pelayanan terbaik untuk pengasuhan di panti asuhan, baik dari sisi fasilitas, kualitas pengasuh, rasio pengasuh dan anak asuh, maupun kualitas pengasuhannya. Jika SNPA diterapkan dengan baik, setidaknya kemungkinan penelantaran akan semakin kecil.

Ada lebih dari 8.000 panti yang tergabung dalam Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak-Panti Sosial Asuhan (LKSA/PSAA). Di antara jumlah tersebut, setidaknya 5.400 panti menerima bantuan langsung dari Kementerian Sosial. Panti yang terakreditasi sesuai dengan standar SNPA baru mencapai 501 panti.

Kondisi tersebut tentu menggambarkan betapa rentannya kondisi anak-anak di panti asuhan. Jika tidak ada percepatan akreditasi panti dan bimbingan untuk perbaikan panti, pemerintah sedang membiarkan anak-anak di panti hidup dalam situasi rentan.

Lembaga Pengasuhan

Panti perlu kembali pada khitah sebagai penjaga mandat agama dan negara. Pengelola panti adalah orang-orang mulia yang mempunyai kepedulian sosial. Mereka merupakan orang yang terpilih dan terpanggil untuk menunaikan amanat kebangsaan, yaitu mendidik anak yatim dan orang tuanya (jika masih memiliki) agar mandiri.

Generasi mandiri dapat dididik lewat panti melalui serangkaian sistem. Panti menjadi ’’balai’’ latihan mental, spiritual, dan pengayaan potensi untuk menyambut masa depan yang lebih cerah. Mereka bukanlah anak terbuang. Mereka mempunyai hak yang sama untuk turut serta membangun peradaban.

Dengan demikian, panti bukanlah tempat pembuangan anak. Panti merupakan persemaian agung sementara dalam menolong mereka yang lemah. Panti berkontribusi dalam membentuk karakter anak yatim. Dari pantilah anak-anak mengenal nilai kekeluargaan, persahabatan, dan pengembangan potensi diri.

Dengan demikian, model dan pola kehidupan yang terbangun bukan sekadar memberi makan dan minum. Namun, terdapat simbiosis mutualisme antara pengelola dan anak panti. Mereka bertemu tidak sekadar untuk menghabiskan waktu atau bahkan bermewah-mewahan di tengah penderitaan orang lain. Namun, panti menjadi universitas kehidupan yang mengajarkan banyak hal sebagai bekal mengarungi tantangan masa kini dan masa depan.

Pengemban Amanat

Saat pola pikir pengelola sekadar ’’bisnis’’, dia tidak hanya memanfaatkan ’’penderitaan’’ orang lain. Namun, dia dengan sengaja mengerdilkan fungsi kemanusiaan. Mereka telah mengingkari keimanan dan keagungan Tuhan. Yaitu, menjadi penyamun agama dengan mengabaikan anak yatim.

Karena itu, panti khususnya pengelola perlu kembali disadarkan akan posisinya. Mereka bukan sekadar pengemban amanat UUD, tetapi menjadi manusia terpilih untuk menguatkan hati dan posisi anak yatim.

Akhirnya, yang terjadi di Demak dan Pekanbaru tersebut merupakan potret betapa ketimpangan peran sosial masih ada. Panti masih dianggap sebagai tempat pembuangan anak sehingga tata kelola panti tidak terawat.

Padahal, panti merupakan rumah besar sebagai terwujudnya jalinan cinta dalam sebuah tindakan untuk peradaban mulia. Karena itu, negara perlu menguatkan pengelolaan panti sebagai tempat pengasuhan alternatif sementara sebagaimana mandat UUD 1945. (***)

Oleh: Rita Pranawati (Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia)

Comments

comments