Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Rabu, November 20, 2019
Halaman Home » Pendidikan » Valentin Day SMPN-3 Songgon Banyuwangi Gelar Upacara
  • Follow Us!

Valentin Day SMPN-3 Songgon Banyuwangi Gelar Upacara 

BERITA BANYUWANGI – Menggelar upacara bendera di hari “Selasa” bukanlah hal biasa seperti yang dilakukan SMPN 3 Songgon beralamat di Desa Bedewang, Banyuwangi, Jawa Timur. Upacara diluar kebiasaan ini kabarnya digelar karena ada misi khusus pihak sekolah bersama aparat Kepolisian.

Informasi yang di dapat, 14 Februari dikenal kalangan muda sebagai Hari Kasih Sayang. Orang dari belahan dunia barat menyebutnya “Valentine Day”. Supaya pengaruh barat tidak berpengaruh negatif bagi generasi bangsa yang duduk di sekolah tingkat pertama, maka digelar upacara bendera.

Dalam kegiatan itu, Kanit Binmas Polsek Songgon Aiptu Tri Sabdono di daulat sebagai pembina upacara. Umumnya, tugas pembina adalah memberi arahan disela-sela upacara berlangsung. Aiptu Sabdono yang diberi mandat menyisipkan nasehat terkait efek kenakalan remaja yang dipengaruhi miras serta narkoba.

“Sudah banyak kalangan pelajar yang tersangkut kasus hukum lantaran mencuri dan membawa kabur anak gadis yang masih dibawah umur. Rata-rata kasus ini dilantari mengkonsumsi miras dan napza,” tukas Aiptu Sabdono, Selasa (14/2/2017) kemarin.

Peringatan Hari Valentin yang jatuh hari ini juga menjadi keprihatinan di kalangan sekolah. Budaya barat tersebut diakui sudah merasuki kalangan muda. Ironisnya, kasih sayang yang diperingati di belahan dunia barat kerap tafsirkan keliru di kalangan remaja Tanah Air.

“Kasih sayang bisa dicurahkan kepada ibu, bapak, maupun kerabat. Guru yang telah membimbing siswa menjadi pelajar yang pandai juga bisa menjadi obyek untuk mendapat kasih sayang. Jangan pas valentin terus mengumbar sahwat dengan pacar. Lha ini yang keliru,” jelas Aiptu Sabdono.

Tafsir yang salah tentang kasih sayang kemudian menimbulkan kasus hukum. Hubungan di luar nikah jelas dilarang agama. Negara seperti tertuang dalam Undang – Undang Perlindungan Anak juga tegas tidak memperbolehkan. Jangankan disetubuhi, dicabuli saja ada ancaman hukumnya.

“Paling repot bila yang melakukan pelanggaran sesama anak belum cukup umur. Pendidikan mereka sama-sama kita kedepankan saat hendak memprosesnya. Maka pencegahan yang kami jalankan semata-mata demi masa depan pelajar itu sendiri,” ungkapnya.

Disadari Aiptu Sabdono, nasehat yang dia lontarkan bisa jadi diterima dengan hati enggan oleh para pelajar. Namun pesan pahit tersebut wajib dia berikan agar mereka mengerti batasan dan ancaman hukuman yang ditimbulkan. (Rony)

Biro Banyuwangi

Comments

comments