Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Minggu, Februari 23, 2020
Halaman Home » Bekasi Kota » Guru Besar ITB : Smart City Indonesia Dirasa Belum Optimal
  • Follow Us!

Guru Besar ITB : Smart City Indonesia Dirasa Belum Optimal 

BERITA BEKASI – Implementasi smart city di Indonesia dirasa belum optimal. Kota-kota yang telah menerapkan smart city masih terpencar-pencar soal implementasinya. Kebanyakan masih dalam konteks mengintegrasikan.

“Membangun terpencar-pencar, masih konteks mengintegrasikan. Smart city yang berhasil (parameter) nilainya 80-100. Tapi kota-kota di Indonesia yang sudah menerapkan smart city nilainya masih berada di angka 40-60, termasuk Jakarta,” ungkap, Guru Besar ITB Suhono H. Supangkat, saat menghadiri Grand Launching Smart City Bekasi, dikantor Walikota Bekasi, Rabu (30/11/2016) kemarin.

Menurut Suhono, Rendahnya nilai tersebut juga tak lepas dari masyarakatnya sendiri. Tak sedikit masyarakat yang antusias memanfaatkan kelebihan yang dimiliki smart city, misalnya dengan sering melakukan pelaporan. Namun tak sedikit juga masyarakat yang masih saja jadi penyebab munculnya laporan tersebut, misal buang sampah di tempat yang tidak seharusnya. 

“Kalau teknologi tinggal beli saja, tapi mindset harus diedukasi. Untuk mengubah pola pikir masyarakat,” ujarnya.

Sebutan smart city erat kaitannya dengan teknologi. Namun menurut Suhono itu bukan yang paling penting. Menurutnya, pemanfaatan teknologi tak lepas dari tata kelola dan pelaksanaannya juga. Maka sebutan smart city baru bisa disematkan bila kota tersebut bisa dengan cepat merespons masalah yang terjadi atau yang dilaporkan masyarakat.

Guru Besar ITB itu juga menambahkan, teknologi sejatinya cuma untuk memudahkan agar respon lebih cepat dilakukan. Untuk memprediksi kejadian seperti banjir, melakukan analisa, kemudian menemukan solusi. Intinya adalah, sukses atau tidaknya implementasi smart city pada akhirnya bergantung pada tata kelola dan pelaksanaannya.

“Kalau semuanya sudah diterapkan (smart city-red) tapi tata kelolanya tidak berjalan, sama saja bohong. Bukan banyak-banyakan aplikasi, tapi tata kelola untuk merespon.” Ungkapnya. (Adv/NDI)

Comments

comments