Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Senin, November 18, 2019
Halaman Home » Berita Daerah » Meski Dilarang, Petani Pengungsi Nekat Trobos Zona Merah
  • Follow Us!

Meski Dilarang, Petani Pengungsi Nekat Trobos Zona Merah 

BERITA TANAH KARO – Meskipun sudah banyak korban awan panas gunung api Sinabung bergelimpangan, tetapi masih banyak pula pengungsi yang nekat menerobos zona merah melalui jalan tikus untuk mencapai lokasi ladangnya.

Sikap orang Karo yang dikenal sebagai bekerja gigih dan berani menghadapi resiko besar ditengah ancaman alam, menjadi modal nekat untuk mengantisipasi anak-anaknya menjadi melarat. Sifat orang Karo yang segan meminta belaskasihan orang, ditunjukan melalui kenekatanya berladang di zona larangan.

Hal ini disebutkan Aman Sitepu (74) pengungsi dari Desa Sukanalu yang berposko di gedung Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabanjahe, Karo, Sumut, ketika berbincang dengan Beritaekspres.com, Rabu (30/11/2016) sambil membersihkan biji kopi yang hendak dijual ke pengepul di Kabanjahe.

Menurut Sitepu, kopi yang sedang dibersihkan dan dijemur dibawah terik matahari, dipetiknya diperladangan warga Desa Sukanalu yang bersebelahan dengan perladangan warga Desa Naman, Kecamatan Naman Teran di dalam kawasan zona merah atau sekitar 5 KM dari Sinabung. 

Sedikitpun tidak ada rasa takut ketika perut ini sudah merasa lapar kempu, (cucu..red), meskipun lokasi ladang berada di zona merah tetap didatangi kalau ada yang perlu dikuti. Cuma bila diketahui erupsi sedang berkecamuk, tentunya harus siap – siap meninggalkan ladang untuk keselamatan,” katanya.

Terlebih saat ini, harga biji kopi yang dijual pada pengepul mencapai Rp28.000 per kilogram, bila hanya ketakutan yang diandalkan, maka kearifan lokal budaya Karo, tidak lagi dapat dilakukan oleh pengungsi.

“Dari mana datanganya uang untuk bisa mendatangi orang yang sedang melangsungkan acara adat (menjalankan adat), tidak pernah pemerintah menyisihkan bantuanya berupa uang kes kepada pengungsi sebagai belanja sehari-hari maupun untuk menghadiri acara adat.

“Untuk itulah kami nekat menerobos zona merah. Karena kami tidak mau dikatakan orang yang tidak mengikuti adat.” Pungkasnya. (Panitra Nedy Tarigan)

 Biro Sumut

Comments

comments