Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Kamis, Februari 20, 2020
Halaman Home » Berita Daerah » Ruang NICU RSU dr. H Koesnadi Bondowoso Disorot Komisi IX DPR RI
  • Follow Us!

Ruang NICU RSU dr. H Koesnadi Bondowoso Disorot Komisi IX DPR RI 

BERITA BONDOWOSO – Seminggu ini, Rumah Sakit Umum (RSU) dr. H. Koesnadi Bondowoso dihebohkan dengan pengunduran diri 22 orang dokter spesialis. Namun tidak hanya itu saja yang menjadi permasalahan di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso itu, tapi masih ada permasalahan lain yang sedang disoroti Komisi IX DPR-RI, yaitu Ruang NICU (ruang perawatan intensif untuk bayi yang lahir abnormal).

Hal itu baru diungkapkan oleh anggota Komisi IX DPR-RI, DR. Hj. Nihayatul Wafiroh pada acara Integrasi Kampung KB di PP Mambaul Ulum Desa Tangsil Wetan Kecamatan Wonsari, Kamis (10/11/2016).

“Saya berfikir Bondowoso ini butuh perhatian dari sisi kesehatan. Kalau saya inspeksi mendadak (sidak), tempat pertama yang saya kunjungi itu pasti rumah sakit. Kalau rumah sakit, ruang pertama yang saaya lihat itu ruang NICU. Ruang untuk bayi yang lahir prematur atau yang abnormal,” jelas Hj. Nihayah, panggilannya.

nihayahHj. Nihayah menuturkan bahwa ia pernah sidak di RS dr. H. Koesnadi. Hasilnya, ruang  NICU untuk bayi itu sudah dianggap tidak layak tempatnya. Makanya ia merekomendasikan untuk dipindah saja.

“Saya pernah Sidak di RSU dr. Koesnadi Bondowoso itu, ruang NICU-nya tidak memiliki memiliki udara yang bagus karena tempatnya ada ditengah-tengah.  Jadi nanti mohon kepada pak Wabup agar ruang NICU-nya di pindah,” ujarnya .

Disana (ruang NICU,red), kata Hj. Nihayah, ia bertemu dengan ibu-ibu  yang sedang menunggu anak-anaknya. Ia pun bertanya pada perawat terkait bayi yang lahir bermasalah itu. 

“Ibu-ibu itu melahirkan pada usia muda kata perawatnya,” bebernya menirukan jawaban perawat di Ruang NICU RS dr. Koesnadi waktu sidak.

nihayatul-wDan ternyata, menurut Hj. Nihayah,  jika ada anak-anak yang bermasalah seperti itu, letak permasalahannya bukan pada si ibu, karena si ibu baru berusia 17 atau 18 tahun.

Tetapi Letak permasalahnya itu ada pada neneknya yang beranggapan dengan menikahkan dini sang anak, masalah ekonomi akan selesai.

“Itu salah besar. Dari situ saya beranggapan bahwa bondowoso membutuhkan penanganan yang ekstra khusus. Maka dari itu saya dengan BKKKBN bekerjasama untuk mendirikan kampung-kampung KB.” Pungkasnya.  (Abdul Wahet)

Biro Bondowoso

Comments

comments