Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Minggu, Desember 8, 2019
Halaman Home » Megapolitan » Blunder, Pernyataan Relawan Ahok Dinilai Perparah Provokasi Masyarakat
  • Follow Us!

Blunder, Pernyataan Relawan Ahok Dinilai Perparah Provokasi Masyarakat 

BERITA JAKARTA – Dugaan penistaan Al Quran yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dinilai telah menjadi blunder buat dirinya sendiri. Diperparah lagi dengan sikap relawan dan para buzzer di sosial media (sosmed) yang matia-matian membela Ahok.

Praktisi IT Ichwan Saychu mengungkapkan, berdasarkan pengamatannya dari trend di sosmed, sikap pemerintah yang diam dan polisi yang terkesan menjadi pelindung Ahok, juga berbagai pernyataan dari pengamat pendukung Ahok, relawan dan juga para buzzer di sosial media yang membela Ahok mati-matian justru memprovokasi masyarakat.

Perang di sosmed yang tadinya hanya dilakukan oleh para pendukung pun kini sudah melibatkan masyarakat yang tadinya tidak peduli sehingga mereka menjadi aktif di sosial media. ”Banyak pendukung Ahok yang mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak masuk akal yang memancing emosi masyarakat,” ujar Ichwan pada siaran pers yang diterima Beritaekspres.com, Senin (31/10/2016).  

Dia pun mencontohkan bagaimana Mantan Ketua Tim Pemenangan Ahok, Nusron Wahid yang menjadi bahan cemooh karena sikapnya yang mendewakan Ahok dan melecehkan para ulama dalam sebuah tayangan televisi. “Pernyataan-pernyataan Nusron itu banyak menjadi memei dan viral di sosial media,” ungkap Ichwan. 

Bahkan, sambung dia sikap Nusron yang kerap melotot-melotot kalau bicara pun menjadi bahan bullying di sosial media. Ulah para buzzer pendukung Ahok yang kerap kali justru membuat pernyataan sara dan menyerang Islam sehingga membuat kondisi menjadi seperti bola salju yang terus membesar dan siap meluluhlantakkan Ahok dan para pendukungnya.

“Ini membuat panas situasi. Orang yang tadinya tidak peduli pun karena agama dan ras-nya diserang menjadi aktif. Ini sangat menggerus basis pendukung Ahok, karena tadinya banyak orang Islam yang mendukung Ahok kini jadi anti Ahok karena ulah para buzzer ini,” sebut Ichwan.

Dia berpendapat, tim buzzer yang nampaknya adalah tim bayaran ini menurutnya nampak sudah panik. Mereka tidak sanggup melawan derasnya sikap anti ahok. ”Mereka kan jumlahnya sekitar puluhan atau ratusan orang, tidak mungkin sanggup melawan pemikiran dari ribuan atau jutaan orang. People power tentunya jauh lebih kuat dari tentara bayaran,” tadasnya.

Fakta inilah menurut Ichwan yang membuat saat ini tidak ada lagi berita-berita soal pooling  di sosial media seperti pada pilkada dan pilpres lalu dimana kekuatan buzzer pasangan Jokowi-JK mendominasi sehingga kerap muncul betapa posisi Jokowi-Ahok maupun Jokowi-JK dalam pooling sosial media selalu diatas.Kalau posisinya dibawah seperti saat ini tidak mungkin lah mereka publikasikan poolingnya,” tambahnya. (OSS)

Comments

comments