Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Minggu, Juni 16, 2019
Halaman Home » Bekasi Kota » Dilarang Ikut Belajar, Ortu Siswi Ngamuk di SMAN-2 Tambun Utara
  • Follow Us!

Dilarang Ikut Belajar, Ortu Siswi Ngamuk di SMAN-2 Tambun Utara 

BERITA BEKASI – Orang tua salah satu siswi SMA Negeri 2 beralamat di Perum Alamanda Regency Blok F, Desa Karang Satria, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi mengamuk bukan kepalang ketika mendengar putrinya, Aglin Hegina Putri (16) yang duduk dibangku kelas 2 SMA itu dilarang mengikuti mata pelajaran dan tugas sekolah oleh guru sejarah bernama Rita.

Amarah itu memuncak, ketika Kepala Sekolah (Kepsek) Ilham mengebrak meja saat orang tua siswi, Agus Budiono tengah mengutarakan ketidakterimaannya mengenai larangan putrinya untuk mengikuti mata pelajaran sejarah guru yang bersangkutan. “Emosi saya timbul, karena penyelesaian persoalan ini digelar diruang guru yang dimana guru lain ikut campur, sehingga persoalan ini tidak terarah yang mulai memancing emosi,” keluhnya kepada Beritaekspres.com, Selasa (20/9/2016).

img-20160920-wa0018Sikap Kepala Sekolah yang baik itu lanjut Agus, ketika ada persoalan dilingkungan sekolah siswi/siswa dengan orang tuanya sebaiknya secara etika diselesaikan diruangannya, bukan diruangan guru, sehingga tidak banyak guru lain yang ikut campur yang membuat suasana semakin keruh. “Sebagai kepala pendidik, seharusnya yang bersangkutan itu paham, bukan begitu cara menyelesaikan suatu masalah,” katanya.

Diakui Agus, memang anaknya salah membawa ponsel ke dalam kelas. Namun, ponsel tersebut tidak dalam keadaan digunakannya. “Memang anak saya mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya itu bermaksud untuk memindahi posisi ponsel yang dirasakannya kurang nyaman, artinya menganjal. Tapi, pas anak saya mencabut ponsel dilihat oleh gurunya yang salah persepsi dikira mau main ponsel, sehingga anak saya dibentak dan tidak boleh ikut belajar,” jelasnya.

Yang lebih mirisnya lagi lanjut Agus, sampai tugas sejarahnya yang sudah dikerjakan pun ditolak oleh guru yang bersangkutan. “Bukan begini cara menghukum atau mendidik siswa/siswi disekolah yang dianggap melakukan kesalahan. Kalau saya lebih baik, ponselnya itu disita, ketimbang si anak tidak boleh mengikuti mata pelajaran oleh guru yang bersangkutan. Ini namanya bukan mendidik atau bentuk hukuman dalam dunia pendidikan. Anak itukan disekolahkan orang tuanya untuk mereka belajar,” imbuhnya.

Masih kata Agus, akibat sikap guru yang bersangkutan itu, kini anaknya sudah malas sekolah dan minta pindah sekolah. “Saya tahu sifat anak saya kalau sudah minta pindah, itu artinya sikap guru yang bersangkutan sudah tidak membuat dia nyaman lagi untuk belajar. Dia biasanya kalau tidak parah dirasakan dihatinya, dia cepat lupa dan kembali lagi seperti biasanya, tapi dalam persoalan ini dia tidak, itulah yang membuat saya kesal,” katanya.

Dengan kejadian ini tambah Agus yang juga Ketua Forum Wartawan Pemantau Peradilan (Forwara) Bekasi ini mengatakan, dirinya tidak terima dan akan melanjutkan ke Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bekasi. “Jelas saya tidak terima, termasuk cara penyambutan pihak sekolah yang tidak punya etika dan tatakrama, sehingga memancing emosi dan persoalannya pun tidak selesai artinya mengambang, karena keburu suasana menjadi tidak baik.” Pungkasnya. (CR-3)

Comments

comments