Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Jumat, September 20, 2019
Halaman Home » Berita Daerah » Lapas Klas IIA Wanita Semarang Ikuti Skrining Massal TB
  • Follow Us!

Lapas Klas IIA Wanita Semarang Ikuti Skrining Massal TB 

BERITA SEMARANG – Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM (Ditjen Pas Kemenkumham) bersama Ditjen P2PL Kemenkes sejak 2008 menerapkan Strategi DOTS di seluruh UPT Pemasyarakatan di Indonesia, Namun untuk Lapas Klas IIA Wanita Semarang melaksanakan TB DOTS sejak 2006.

Menurut petugas Ditjen Pemasyarakatan, dr. Ummu Salamah menyampaikan, intensifikasi penemuan kasus merupakan salah satu kegiatan program pengendalian TB di UPT Pemasyarakatan. Penemuan kasus TB dilakukan secara aktif melalui skrining WBP dan tahanan baru, survey batuk, pelacakan kontak, skrining menjelang bebas, dan skrining massal berkala dan pasif melalui kunjungan ke klinik.

“Kegiatan skrining massal TB di Lapas klas IIA Wanita Semarang menerapkan kebijakan nasional TB tentang intensifikasi penemuan pasien TB di Lapas atau Rutan dengan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) TB sebagai metode diagnosis secara bakteriologis,” ujar dr. Ummu kepada Beritaekspres.com di Lapas Wanita Semarang, Rabu (27/7/2016) kemarin.

Menurut dr. Ummu, Lapas Klas IIA Wanita Semarang merupakan Lapas kedua di Indonesia yang melaksanakan kegiatan skrining massal dengan metode diagnosis TCM TB yang rencananya akan diikuti oleh 29 Lapas dan Rutan terpilih lainnya.

“Skrining massal ini bertujuan untuk menemukan secara dini kasus yang belum terdiagnosa dengan metode lain seperti skrining WBP dan tahanan baru, survey batuk, pelacakan kontak, skrining menjelang bebas, dan kunjungan ke klinik,” ungkapnya.

Pelaksanaan skrining massal sendiri dimulai dengan pembekalan bagi kader kesehatan dan petugas Lapas pada tanggal 27-28 Juli 2016 yang dilanjut dengan skrining masal TB pada petugas Lapas tanggal 29 Juli 2016 dan skrining masal TB pada warga binaan pemasyarakatan pada 1-5 Agustus 2016.

“Selain dokter dan perawat, sebagai pelaksana kegiatan tersebut adalah dari staf non kesehatan dan kader kesehatan terlatih dari Lapas sendiri, dan juga dari Dinkes, RSUP dr Kariadi, dan petugas kesehatan terkait di Kota Semarang,” imbuh dr. Ummu.

Apabila nanti ditemukan pasien TB di Lapas Klas IIA Wanita Semarang, maka akan segera dirawat,  termasuk TB-HIV dan TB Resistan Obat dan ODHA dilakukan oleh Lapas berjejaring dengan faskes rujukan setempat.

“Bagi pasien yang terdiagnosa TB akan ditawarkan tes HIV sesuai dengan kebijakan nasional kegiatan  kolaborasi TB-HIV,” pungkasnya. (Nining)

Biro Semarang

Comments

comments