Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Jumat, Juli 19, 2019
Halaman Home » Opini » Walikota Bekasi Rahmat Effendi dan Ahmad Syaikhu Jauh Isu Pecah Kongsi
  • Follow Us!

Walikota Bekasi Rahmat Effendi dan Ahmad Syaikhu Jauh Isu Pecah Kongsi 

WALIKOTA Bekasi Rahmat Effendi bersama Wakil Walikota Ahmad Syaikhu jauh dari isu pecah kongsi dan hiruk pikuk manuver politik. Beberapa waktu lalu Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memberikan pernyataan, Rahmat Effendi dan Ahmad Syaikhu dipandang sebagai pasangan Kepala Daerah terkompak di Jawa Barat.

Ahmad Heryawan mengatakan bahwa Rahmat Effendi-Ahmad Syaikhu  merupakan  percontohan pasangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah  terkompak. Terlihat harmnisasi dan sinergitas keduanya dalam menjalankan amanah.

Rahmat Effendi yang kuat dalam laedership kepemimpinan mengelola managamen pemerintahan dan kebijakan sedangkan Ahmad Syaikhu menjalankan peran di bidang sosial kemasyarakatan serta keagamaan. Keserasian saling melengkapi itu tidak saja dalam menjalankan pemerintahan namun juga dalam perpolitikan.

cWalikota Rahmat Effendi dihadapan Ulama dan Umaro juga memaparkan bahwa  segala kemajuan Kota Bekasi merupakan hasil dari kekompakan dirinya beserta Ahmad Syaikhu. Keduanya saling berbagi tugas dan sesuai peran masing-masing.

Tidak seperti para pemimpin daerah lainnya yang sengaja mendesain penyebaran informasi ke publik dengan menggunakan jasa group besar jaringan online, pemilik pengelola akun dan managemen pengelola sosial media.

Sosoknya yang sederhana mudah bergaul dan bicaranya lugas bisa diterima semua kalangan maupun rival politiknya. Dalam beberapa kesempatan, DR H Rahmat Effendi dengan cepat menguasai masalah dan memutuskan solusi yang tepat. Semuanya mengalir seperti air tanpa rekayasa, pencitraan dan Gila hormat.

fDalam dunia perpolitikan lokal merupakan hal biasa jika ada suara sumbang karena afiliasi parpol. Selama itu sebagai kritikan yang kritis dan solutif merupakan kebersamaan dalam membangun peradaban dan perbaikan untuk kesejateraan warga Kota Bekasi. Namun, variabel yang dikemukakan harus memenuhi esensi masalah dan memberikan masukan yang cerdas beradab. Bukan mencaki maki membabibuta semuaya salah dan tidak sedikitpun memberikan apresiasi keberhasilan. Yang baik harus diberikan apresiasi dan yang kurang baik harus dikritisi agar ada perbaikan.

Fakta yang harus dikedepankan dan pasti ada saja kekurangan dalam melayani masyarakat. Prinsip semua pendahulu dan pemimpin yang pernah menjadi Walikota Bekasi sudah pasti memberikan kontribusi besar dalam meletakkan pembangunan pada era dan masanya. Estafet suksesi kepemimpinan dari satu pemimpin ke pemimpin berikutnya merupakan tuntutan zaman dan role demokrasi yang harus dijujung tinggi.

hBelakangan ini Rahmat Effendi makin itens turun ke bawah. Memantau car free day setiap hari Minggu, menyelesaikan sengketa warga yang ditembok dan tidak diberikan akses, turun langsung ke lokasi bencana banjir, memantau titik kemacetan, melihat langsung dan menerima keluhan pasien RSUD, memberikan contoh menyapu jalan hingga menegur sopir angkot yang suka ngetem.

Berkat kerja keras semua pihak dan khususnya SKPD, akhirnya selama 19 penantian panjang, Pemkot Bekasi mendapat predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jawa Barat. Sebelumnya, Pemkot Bekasi, selalu mendapat predikat WDP (Wajar Dengan Pengecualian). Rahmat Effendi selalu terlihat serasi dengan Wakil Walikota Ahmad Syaikhu dalam beberapa kesempatan. Rahmat yang menonjol dalam laedership memanag pemerintahan dan kemasyarakatan. Sedangkan Ahmad Syaikhu lebih menonjol bidang keagamaan dan sosial masyarakat. 

tDengan sifat kebapaan, Rahmat Effendi terlihat menghibur anak kecil pasien penderita tumor di RSUD Kota Bekasi. Tak segan dia juga menyambangi semua pasien dengan menampung keluhan dan masukan dari pasien langsung. Gerak cepat dan sigap tanggap itu dilakoninya dalam menangani setiap permasalahan yang muncul. Dari permasalahan kemasyarakatan, fasilitas perkotaan, pelayanan, sosial-keagamaan, pendidikan, kesehatan dan dampak kemiskinan.

Selera makannyapun hampir sama seperti masyarakat Betawi pada umumnya yang suka jengkol dan sayur gabus pucung.  Kebersahajaan itu mengalir tanpa rekayasa. Untuk urusan nongkrong dan makan dimanapun jadi sekaligus bercengkrama dengan berbagai lintas masyarakat. 

Oleh: Maulana Syammas  Syamsi

ae

C

C

r

Comments

comments