Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Kamis, Juli 18, 2019
Halaman Home » Berita Daerah » Warga Bantul, Argiana Mengaku Tak Tahu Tentang Gafatar
  • Follow Us!

Warga Bantul, Argiana Mengaku Tak Tahu Tentang Gafatar 

BERITA SEMARANG – Setelah menempuh perjalanan dari Pontianak menuju Pelabuhan Tanjung Emas Semarang selama kurang lebih 40 jam, para penumpang KRI Gilimanuk yang merupakan eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) terlihat sangat kelelahan.

Seperti yang dialami salah satu warga Bantul, Yogyakarta, Argiana Noor (30) yang sudah 2 bulan mengaku diajak seseorang untuk berangkat ke Kalimantan, tepatnya di Desa Pasir,  Mempawah, Kalimantan, untuk meningkatkan perekonomiannya, khususnya pertanian.

“Saya memang diajak seseorang, dia bilang di Kalimantan nanti bisa sewa lahan dulu dengan harga murah, kalau sudah berhasil nantinya bisa dibeli,” ujar Argiana kepada Beritaekspres.com di tempat transit Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Senin (25/1/2016).

DSC_0968Setelah itu, Argianapun setuju dan diminta untuk menandatangani surat perjanjian atau surat kontrak. Bahkan ia sudah mengeluarkan uang sebesar Rp 25 juta untuk pembelian lahan di sana.

“Saya di sana juga mendapatkan rumah,” katanya.

Argiana yang merupakan lulusan S1 (Seni Rupa) tersebut merasa sangat tertarik dengan pertanian setelah menyelesaikan studinya. Apalagi ia merasa di daerahnya (Bantul) untuk lahan pertaniannya kurang memadai. 

“Di sana lahannya sangat subur, jadi saya betah di sana,” selanya.

Terkait adanya organisasi Gafatar, ia mengaku tidak tahu kalau ada organisasi yang bertentangan dengan pemerintah tersebut. Karena ia selama di sana hanya disibukan dengan bertani dan berkebun. Dari pukul 05.00 WIB hingga 17.00 WIB hanya disibukan di sawah.

“Saya baru 2 bulan ikut di sana. Yang saya tahu hanya bekerja di sawah,” lanjut dia.

Argiana merupakan satu di antara 351 eks anggota Gafatar yang berangkat ke Kalimantan bersama istri dan satu anaknya yang masih balita.

Dirinya kini hanya bisa berharap uang yang sudah ia keluarkan untuk membayar lahan pertanian di sana sebesar Rp 25 juta bisa kembali. Karena dia merasa dipulangkan ke daerah asal dengan paksa.

“ Setidaknya uang saya bisa kembali, walaupun separuhnya,” harap Argiana. (Nining)

Comments

comments