Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Sabtu, Desember 7, 2019
Halaman Home » Pendidikan » Pungli di SDN Kayuringin Jaya XIII, Sunat Gaji Tukang Kebun Sampai Korupsi Uang Sabun!
  • Follow Us!

Pungli di SDN Kayuringin Jaya XIII, Sunat Gaji Tukang Kebun Sampai Korupsi Uang Sabun! 

BERITA BEKASI – Pasca pemberitaan pungutan liar (Pungli) di SDN Kayuringin Jaya XIII yang berada di wilayah RW08, Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan, sepertinya Dinas Pendidikan Kota Bekasi masih bungkam. Kabarnya, Kamis (3/12/2015) ini, semua wali murid dipanggil sekolah untuk dimintai keterangan bocornya semua informasi tak sedap kepada awak media. 

Di-era keterbukaan informasi publik, perlu dicatat bahwa sekolah yang pernah mengukir prestasi tersebut kini menuai pro-kontra di bawah kendali Kepala Sekolah Hj. Sukaesih, M.Pd. Pasalnya, maraknya pungutan liar dari yang terkecil hingga yang terbesar ibarat pepatah orang Betawi Bekasi “Apa-apa diduitin bae” tak seutuhnya keliru.     

Ditengah slogan kegembiraan rakyat menyambut “Sekolah GRATIS” teriakan dan gema NKRI  tampaknya hanya retorika bagi kalangan culas dan tak mengedepankan etika dan nilai kejujuran. Biaya sekolah gratis yang didengungkan di kalangan dunia pendidikan yang selama heboh diteriakkan para pendidik sepertinya hanya kamuflase.

Bantuan dana BOS dan tetek-bengeknya yang terbiasa diselewengkan para oknum pun agaknya tak optimal. Dunia pendidikan sepertinya menangis, melahirkan anak didik yang doyan korupsi, karena biangnya juga terbiasa sunat hak orang. Doa orang teraniaya sangat cepat hisabnya bagi si penganiaya, meski disembunyikan sekalipun perbuatan zalimnya. Tapi Tuhan-lah Yang Punya Kuasa bagi umatnya yang tidak amanah dan jujur.

Tak dipungkiri di bawah kendali Hj. Sukaesih, M.Pd sekolah yang pernah jadi sekolah favorit kini berantakan, ditinggalkan orang-orang disekitarnya, pasalnya wali murid yang telah tahu bahwa sekolah tersebut tak amanah lagi, akhirnya tak merekomendasikan anaknya untuk sekolah di SDN Kayuringin Jaya XIII, mereka lebih memilih sekolah yang lain yang dekat dengan lingkungan tempat tinggalnya.  

Tersiar kabar di seantero Kayuringin Jaya bahwasanya wali murid yang tadinya berharap ingin menyekolahkan ke sekolah tersebut lebih memilih ke sekolah sebelahnya SDN Kayuringin Jaya XII. “Awalnya saya mau masukin anak saya ke situ, tapi eh belum apa-apa dimintain duit segala macem, ya nggak jadi,”tukas orang tua murid yang tinggal tidak jauh dari sekolah tersebut.

Dulu sebelum dipegang Kepsek yang sekarang bagus lho, nggak pernah ada pungli segala macem sekarang apa bae diduitin, tapi Dinas Pendidikan kayaknya mandul, buktinya dengan maraknya pungli dan semua wali murid sebetulnya sudah lama tahu, baru sekarang aja heboh karena mungkin nggak tahan, tapi kok belum ditindak kepala sekolah nakal kayak gitu,”tambahnya.

Sumber yang didapat Beritaekspres.com, Hj. Sukaesih, M.Pd sebelum menjabat sebagai Kepsek di SDN Kayuringin XIII, pernah juga bermasalah di sekolah lama sehingga dimutasi. Bahkan saat masuk di sekolah tersebut tak tanggung-tanggung bawa TU sendiri untuk kemudian mengajar bahasa Inggris yang tak lain masih saudara.

Tak hanya marak pungli dan segala macam, sebuah fakta terungkap. Sebuah sumber di sekitar sekolah mengatakan bahwa dari uang sabun hingga gaji tukang kebun pun disunat oleh Kepseknya. Andi tukang kebun SDN Kayuringin Jaya XIII ternyata haknya yang biasanya diterima Rp750.000/bulan kini hanya terima Rp 650.000/bulan. Namun sebagai orang yang lemah dan tak berdaya, ia hanya pasrah menerima kenyataan pahit yang menderanya.  

“Ya gaji yang biasanya terima setiap bulannya Rp750.000 tapi dipotong Rp100 ribu tiap bulan, makanya sekarang hanya terima Rp650.000/bulan,” ungkapnya.  

Ditandaskan lebih lanjut bahwa Andi selaku tukang kebun yang telah loyal mengabdi demi SDN Kayuringin Jaya XIII, meski setiap bulan harus membubuhkan tanda tangan untuk uang sabun dan segala macem sejak dipegang Kepsek baru, ia hanya melongo dan mengelus dada, pasalnya ia hanya diperalat untuk tanda tangan, tapi uangnya masuk kantong kepsek.

Tanda tangan yang dibubuhkan Andi dalam secuil keras pun diakal-akalin kepsek. Ia hanya tanda tangan, tapi uang sejumlah Rp300.000 tak pernah diterimanya.

“Nah setahu saya pak Andi selalu tanda tangan dipanggil sih dipanggil sama kepala sekolah, kayak uang sabun tiap bulan Rp 300 ribu, tanda tangan, tapi nggak pernah terima. Gajinya saja Rp 750.000/bulan dipotong Rp 100 ribu makanya terimanya hanya Rp 650.000,”tukas sumber wanita yang merasa prihatin dengan nasib Andi sang tukang kebun yang malang.

Menurut sumber yang sempat terekam di kalangan sekitar sekolah bahwa Kepsek sudah memaparkan terkait sekolah mau dibangun dua lantai dengan anggaran besar, agar tampak megah dan mentereng. Obsesi kepsek yang jitu tampak luar biasa, namun kita juga harus tahu yang kecil saja disunat apalagi yang besar.

Lengkaplah sudah pusaran kisah dramatis kelam mengukir sejarah dunia pendidikan, khususnya di Kota Bekasi yang notabene bakal ambisi mengejar Piala Adipura. Namun, di balik obsesi para pejabat publik tingkat elit Kota Bekasi, ragam problematika yang tak kunjung mereda dengan segambreng pernak pernik di antaranya krisis moralitas seharusnya menjadi pecut atau cambuk perubahan mental mumpung masih ada kesempatan berbenah.

Implikasinya, di tengah manusia tendensi hedonis (duniawi) dan terserang penyakit kronis al wahan (cinta dunia & takut mati) seperti sabda Rasulullah rentang 15 abad silam. Mereka saling berlomba memburu duniawi demi kompetisi dengan manusia lainnya. Kejujuran dan pola hidup sederhana serta TAKUT kepada Allah SWT adalah kunci pengendali agar menjadi pejabat yang amanah dan akuntabilitas. (Tejo Nagasakti)         

Comments

comments