Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Senin, Februari 24, 2020
Halaman Home » Bekasi Kota » Test Keperawanan Calon Polwan, 4 Polwan Berkisah Saat Latja di Polresta Bekasi Kota
  • Follow Us!

Test Keperawanan Calon Polwan, 4 Polwan Berkisah Saat Latja di Polresta Bekasi Kota 

BERITA BEKASI – Meski telah diberlakukan perihal test keperawanan di kalangan para calon Polisi Wanita (Polwan), sampai kini terbilang masih menuai pro-kontra. Tak sedikit setuju dan ada pula menolak berasumsi tabu. Meski demikian, tak menghalangi institusi Polri tetap menjalankan syarat dan aturan yang telah dirancangnya.

Kepada Beritaekspres.com beberapa Polwan mengaku setuju dan tidak keberatan jika test keperawanan dilakukan, menganggap bahwa calon polwan harus orisinalitas.

“Sebelumnya, kami telah menjalani rangkaian tes fisik dan mental. Ada sejumlah tahapan seleksi yang harus dilewati mulai dari seleksi administrasi, kesehatan pertama, akademik, psikotes, dan kesehatan kedua, lebih spesifik dalam tes kesehatan misalnya beberapa item, bahkan dilihat sangat detail seperti kebersihan telinga hingga jumlah jerawat,” ujarnya.

“Ada tes keperawanan juga, jadi ada tim dokter perempuan yang memeriksa keperawanan dengan melihat keutuhan selaput dara, sudah robek atau belum. Memang Polwan syaratnya harus masih perawan. Namun secara medis ada kriteria sendiri, robek yang seperti apakah yang disebut tidak perawan itu,” ungkapnya lagi.

Terkait detail kriteria selaput dara yang menunjukkan bahwa seorang perempuan masih perawan atau tidak mereka kurang mengetahui. “Pokoknya diperiksa semua, saya kira itu wajar. Kita di Polwan mengabdi pada masyarakat, jadi harus sehat keseluruhannya dan tidak ada tekanan apapun dalam proses pemeriksaan itu,” akunya jujur.

Demikian ditandaskan empat polwan yang sedang Latja (latihan kerja) ketika ditemui di Ruang Kasat Tahti Polresta Bekasi Kota mengisahkan. Potongan rambut mereka seragam pendek seleher. Dengan berbalut baju polisi warna cokelat, badan mereka ramping.

Kesan berani terpancar dari raut wajahnya. Tegas namun tetap ramah. Ke-4 calon polwan itu Ardila Dwi Pangesti (18) dari Kepulauan Riau, Amanda Aprillia Kartini (19) dari wilayah Polda Metro Jaya. Novita Kristina Sihombing (21) asal Papua dan Riris Oktavia (21) dari Nusa Tenggara Timur.

Setelah dilantik menjadi bripda (brigadir dua) pada 29 Desember 2014 silam, ke-4 polwan dan dinyatakan telah lulus, mereka pun di tempatkan menyebar, masih di jajaran Polda Metro Jakarta (PMJ) semisal Polresta Bekasi Kota dan Kabupaten.

Lantang, gesit dan cantik itulah yang terpancar saat berbincang dengan 4 calon polwan yang Latja (latihan kerja) di Polresta Bekasi Kota. Berbincang dengan calon bripda yang melakukan latihan kerja di Polresta Bekasi Kota terbilang menyenangkan. Saat berbincang, kata ‘SIAP’ kerap terlontar dari ke-4 calon polwan. Dan, memang kata siap sangat familiar dan lumrah digunakan di kalangan militer dan kepolisian.

Dikisahkan saat latja di Polresta Bekasi Kota, keseluruhan berjumlah total 118 orang. Apa yang dilakukan di Polresta Bekasi Kota adalah bagian dari program pelatihan rekrutmen polwan yang dipusatkan di Ciputat, Kebayoran Lama. Untuk latihan kerja nyata sendiri ada 5 polres yang dimanfaatkan oleh para calon polwan, di antaranya Polresta Bekasi Kota & Kabupaten, Polres Depok, Polres Tangerang Kota dan Polres Tangerang Kabupaten.

Pendidikan polwan yang dipusatkan di Ciputat dilaksanakan selama 7 bulan. Total ada 7000 calon anggota polwan yang mengikuti lemdik di tempat pelatihan tersebut. Di antara ribuan yang daftar calon Polwan Angkatan ke-43. Kalau untuk polisinya angkatan ke-39. “Latihan kerja nyata hanya berlangsung selama seminggu karena tepat tanggal 29 Desember 2014 kami resmi dilantik menjadi polwan berpangkat bripda,” tuturnya.

Bagi Ardila menjadi Polwan adalah cita-citanya semenjak kecil. “Ya selayaknya cita-cita semua orang akan merasa bahagia sekaligus bangga apabila dapat menggapainya. Sebagai yang termuda, saya merasa tidak kehilangan masa remaja, dengan menjadi calon anggota polwan di usia belia,” kata Ardila.

Dikatakan mereka bahwasanya selama 7 bulan mereka mendapatkan banyak materi, dari laka lantas, jaga tahanan, pendididkan dan rekayasa (dikyasa), penjagaan, pengawalan, tindakan pertama tempat kejadian perkara (TP TKP) Unit Pelayanan Perempuan & Anak (PPA) hingga Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT).

“Apa yang kami dapatkan secara teori dalam pelatihan itulah yang kemudian harus bisa kami praktekkan dalam latihan kerja nyata. Bagaimana kami melayani masyarakat dengan baik dan ramah. Kita ingin menghapus stigma atau jarak anatara polisi dan masyarakat,” imbuh Novita Kristina Sihombing. Ya mereka patut berbangga atas keberhasilan mampu menyisihkan para pendaftar polwan lain yang gugur dalam proses seleksi.

Memotivasi Tahanan Depresi

Saat ditelisik Beritaekspres.com, perihal tujuan dan kisah berinteraksi dengan tahanan, Ardila asal Kepulauan Riau langsung sigap menjawab. “Untuk mengaplikasikan apa yang telah kami pelajari selama berada di lemdik, contohnya kami diajarkan cara membawa tahanan. Sudah di praktekkan. Kendala di lapangan karena masih baru kami masih gugup masih canggung bagaimana cara berinteraksi dengan tahanan & cara membawa tahanan yang baik dan benar,” terangnya.

Dan terkadang sambungnya, siswa itu mempunyai kesalahan membawa tahanan, harusnya tangan diborgol didampingi kiri dan kanan. Mungkin dalam prakteknya salah, karena jauh dari tahanan. Kendala berbeda antara teori dan praktek. Di teori bisa saja melakukan dengan benar, tapi diprakteknya berbeda. Itu yang paling menonjol.

Ditandaskan lebih lanjut oleh mereka bahwa perbedaan misalnya kalau penempatan kelengkapan sarung borgol di lemdik itu diajarkan di sebelah kiri dan di praktek itu di sebelah kanan. Kemudian, situasi dan lingkungan mungkin kalau di lemdik itu direkayasa oleh gadik gadik di sana jadi simulasi, kalau di sini terjun nyata.

Ruang tahanan dan sifat tahanan kami harus bisa mengaplikasikan dengan benar.  Jadi apa yang kami dapat di lemdik terkadang berbeda bukan beda sangat jauh seperti apa. Karena di sini bentuk tahanan asli, kami benar-benar menjaga supaya tahanan tidak kabur, agar tahanan tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

“Kami telah diberitahu oleh bapak AKP Meghan (Kasat Tahti sebelum di mutasi di Pospol Harapan Indah). Pak AKP Meghan sangat bijak dalam memberikan wawasan dan arahan pada kami semua yang sangat bermanfaat. Bahwasanya tahanan itu manusia juga dan sepatutnya kami menghargai mereka, yang memiliki hak-hak asasi manusia. Kami berusaha bersosialisasi dengan mereka, tapi tidak mengurangi dalam menjaga tahanan tersebut,” paparnya.

Larangan dalam membawa tahanan kita tidak boleh berbicara dengan tahanan dan tidak boleh memberi makanan atau rokok. Tergantung kalau kita dalam mengawal mereka kita diperintahkan cukup berkomunikasi misalnya silahkan jalan jika sudah sampai pengadilan. Kalau tahanan keluar kalau diperintahkan mentornya ya mengikuti ya kami mengikuti. Kami fleksibel tidak terpaku pada acuan di buku, tapi tetap menjalankan acuan di buku. Apabila kami diperintahkan menjaga tahanan, kami juga akan menjaga tahanan.

Ada tahanan yang mencoba bunuh diri kasus kriminal, tahanan itu kan baru masuk, mungkin stres atau depresi dia berpikir panik dan ingin bunuh diri dan itu tidak terjadi karena ada tahanan lain yang membujuk untuk tidak melakukannya.Yang kami lakukan kemarin mengajak ngobrol tahanan memberikan motivasi dan support dan menunjukkan kita perduli dan empati kepada tahanan, support motivasi agar pikiran pendek ke depan itu dihilangkan,” tukas Novita Kristina Sihombing dengan gesitnya.

Setiap ada yang mau besuk tahanan dan membawa makanan wajib kita periksa karena tidak tertutup kemungkinan di dalam makanan tersebut ada narkoba atau silet. Kita juga menggeledah badan, tidak tertutup kemungkinan menyembunyikan senjata tajam dan narkoba di bagian tertentu yang tidak mudah dijangkau, kita wajib menggeledahnya untuk kebaikan tahanan juga,” tambahnya.

Dalam Latja di Polresta Bekasi Kota, Iptu Indira, S.Sos & Ipda Evi Fatma sebagai mentornya yang memberikan bekal dalam Latja. “Kita kan bisa memilih yang baik dan benar dan tidak semua salah seperti kata mentor, makanya apa yang benar kami tiru. Kalau yang ditunjukkan baik silahkan contoh jika kurang ya jangan dicontoh,” urainya.

Dikatakan oleh mereka bahwa awal Lemdik di Ciputat pada 1 juli 2014, pendidikan di buka pada tanggal 3 Juli 2014. Dinyatakan siswa di Sepolwan (Sekolah Polisi Wanita) Jl. Ciputat Raya No. 41 Kebayoran Lama, Angkatan ke-43. “Selama 2 bulan kami mengalami masa basis di mana masa basis itu pembentukan mental pribadi kami yang dulunya sipil menjadi berjiwa polisi. Dan, setelah masa basis 5 bulan ke depan pembentukan kemandirian dan karakter diri. Dan, semoga pengalaman kami bisa bermanfaat bagi mereka yang ingin menjadi polwan,”pungkasnya. (Tejo Nagasakti)

Comments

comments