Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Minggu, Juni 16, 2019
Halaman Home » Pilihan Redaksi » Soal RS. St Carolus, Korban: Tindakkan Dokter Diluar Kesepakatan Awal
  • Follow Us!

Soal RS. St Carolus, Korban: Tindakkan Dokter Diluar Kesepakatan Awal 

BERITA JAKARTA – Dugaan malpraktek yang menimpa seorang ibu, RH (35) ketika sudah sepakat untuk menjalankan operasi pengangkatan penyakit kista yang di deritanya selama ini melalui dr. Herbert Sitomorang di RS. Santa Carolus beralamat di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, diluar kesepakatan awal antara RH selaku pasien bersama suaminya Jhon dengan dr. Herbert.

Kepada Beritaekspres.com, suami korban Jhon mengungkapkan ketika RH (istrinya) pada tahun 2008 mengalami sakit yang luar biasa disaat datang bulan (nyeri haid). RH yang tidak dapat menahan sakit, akhirnya mendapat rujukan ke Rumah Sakit St. Carolus ditangani dr. CA dan dirawat selama 5 hari, terhitung sejak tanggal 11-15 Februari 2008 melalui dr HDR.

Setelah menjalani perawatan, rasa sakit yang dirasakan RH mulai terasa membaik dan diperkenankan untuk pulang kerumah. Namun selang beberapa hari, RH kembali mengalami rasa sakit yang sama dan kembali lagi dirawat di RS. St Carolus melalui dr W dan dr. HDR. Dan pada tanggal 28 Februari RH diminta untuk melakukan USG.

Dari hasil USG didapatkan diagnosa, kalau RH mengalami perlemakan dan Kista Ovarium di bagian perut sebelah kanan. Akhirnya, RH disarankan kepada dokter Herbert Situmorang seorang dokter ahli kandungan di Rumah Sakit St. Carolus. Dokter menyarankan agar RH menjalani operasi untuk membersihkan penyakit Kista yang bersarang dalam perutnya.

Pada tanggal 28 April 2008 setelah melalui persetujuan (perjanjian operasi) untuk mengangkat dan membersihkan penyakit Kista yang selama ini bersarang dalam perut RH. Operasi pun dijalankan oleh dr. Herbert Situmorang yang seharusnya menggangkat dan membersikan Kista malah memotong tuba kiri dan kanan tempat dimana pertemuan induk telur dan sel sperma berkembang, sehingga RH sudah tidak dapat lagi memiliki anak.

Hal inipun, diketahui oleh pihak keluarga pasca usai operasi yang menunjukan dalam tabung kaca yang diangkat bukan Kista, melainkan potongan tuba RH, ditambah lagi pihak keluarga sempat melakukan USG dan benar ternyata tuba kiri dan kanan RH sudah tidak ada lagi yang membuat Jhon suami RH sempat marah.

Dr. Herbert pun sempat meminta maaf dan bahkan menjanjikan RH untuk mengikuti program bayi tabung. “Didepan saya sebelum melakukan operasi dr Herbert mengatakan mau membersihakn kistanya, ini malah tubanya yang diangkat diluar kesepakatan dan perjanjiannya dan ini sangat tidak professional,” katanya.

Jhon melanjutkan, persoalan ini pernah dibahasnya dengan dr Herbert pasca usai melakukan operasi istrinya RH. Namun, dr. Herbert selalu mengarahkan untuk mengikuti program bayi tabung dengan harga terjangkau yakni, Rp25 juta. “Yang lebih membuat saya marah, dr Herbert telah berbohong dengan saya dengan mengatakan usai operasi istri akan hamil, tapi kenyataanya sudah lain cerita tuba isri saya malah diangkat dan dia justru mengarahkan program bayi tabung,” terangnya.

Tujuh tahun sudah menunggu keajaiban datang untuk dapat memiliki anak dari rahimnya. Namun, keajaiban itu tak pernah kunjung tiba. RH pun sempat mengalami setres dan depresi  ingin melakukan bunuh diri dengan meminum racun dan menyanyat tangannya dengan menggunakan pisau. Karena kejadian ini, dirasa RH sudah tidak berguna menjadi seorang perempuan. RH pun, berharap adanya keadilan terhadap dirinya agar dokter Herbert bisa bertanggung jawab dari apa yang telah dilakukannya.

Terpisah, kuasa hukum RH, Setiawan Sidharta mengatakan sudah cukup janji dan sabar kliennya yang menunggu sejak tahun 2008 hingga saat ini. Pendekatan yang dilakukan pihak Rumah Sakit St. Carolus pun terhadap RH selalu melemahkan kliennya yang memang awam akan hukum ditambah lagi, kasus ini telah berdampak secara moral, pisikologi terhadap kliennya dan pihak Rumah Sakit harus bertanggung jawab, sehingga dapat membuat oknum dokter tersebut merasakan apa yang telah dilakukannya itu salah dan telah melakukan pelanggaran secara kode etik kedokteran. (Putra Tobing)

Comments

comments