Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Jumat, September 20, 2019
Halaman Home » Opini » Munculnya Penyakit Kronis Al-Wahan & Peringatan Rusulullah Tentang Korupsi
  • Follow Us!

Munculnya Penyakit Kronis Al-Wahan & Peringatan Rusulullah Tentang Korupsi 

PADA tataran kontemporer, kultural & falsafah Jawa tabur tuai diasumsikan bermakna dalam. Meski kerap alami dikotomi interpretasi. Perilaku-perilaku memarjinalkan moral kian menggeliat dalam bingkai kehidupan. Sejatinya, secuil harta apapun, pertanggungjawaban menanti di ujung pembalasan dalam fase yaumul hisab (hari perhitungan,red). Dalam fase spiritual, kebahagiaan dunia bersifat fatamorgana. Dilandasi syahwat (hawa nafsu) berimplikasi konsumtif, tidak pernah puas mengejar sesuatu. Di balik akumulasi keinginan duniawi, proses melilit berkecamuk. Terjebak dalam ragam problematika hidup. Tapi, delusi (salah dipertahankan,red) cermin sekelumit lakon kehidupan dalam bingkai sekularisme, dan mengklaim tataran life style.

Mengapa bahagia malah memudar ? Perspektif keliru terhadap kehidupan ini. Melupakan hakekat hidup dan tidak pandai bersyukur. Ada 3 determinan, paradigma perspektif keliru, terhadap kebahagiaan yang harus dihindari. Pertama, kebahagiaan tidak ditentukan materi. Akhirnya, pikiran dijejali keinginan terhadap benda-benda dianggap membahagiakan. Di beragam institusi sarat liku & pernik, memasuki jabatan prestise, serasa tidak ‘gaul di komunitasnya, jika masih konservatif. Kekinclongan pandang serasa menggapai kepantasan. Kata moncer pun seakan kebutuhan absolut, bagai arena kompetisi.   

Kaum borjuis, pejabat pemerintahan, politisi, dan selevelnya di tengah rakyat bergelimang kelaparan, bangga mempertontonkan hartanya. Terus berburu harta demi mencapai fase kebahagiaan. Kesenjangan ekonomi si miskin & si kaya di tengah krisis moneter (sejak 1997, red) entah kapan berakhir, berpeluang memicu radikalisme. Akumulasi jerat kemiskinan rakyat, rentan aksi teror & anarkisme. Kesenjangan pun tampak terpampang. Pada tataran pergaulan si kaya ambisius memburu. Ingin punya rumah mewah di tempat strategis, mobil mewah terbaru, dan seabreg obsesi lain. Pemicunya, tuntutan gengsi life style. Jika ini melekat, maka tidak akan pernah merasakan kebahagiaan hakiki. Berilusi kebahagiaan ada di masa depan. “Saya bahagia jika telah menjadi…? Bekerja keraslah menggapai obsesi. Saat posisi direngkuh, hatinya bergejolak, “Saya bahagia jika punya sebuah perusahaan.” Lalu, bekerja keras lagi. “Saya bahagia, jika memiliki perusahaan ini & itu. Di balik itu, gusar & cemas melanda, rasa kekuatiran bangkrut, takut kehilangan, kontradiksi dalam diri. Persis, tatkala orang tua merasa, “Saya akan bahagia, jika anak saya telah menjadi sarjana…?

Perspektif keliru ke-3 adalah membanding-bandingkan dengan yang lain. Melihat orang lain lebih beruntung, merasa apatis & kesal terhadap apa yang diperolehnya. Jika ada orang sukses, dirinya merasa gagal. Persaingan, kerap memunculkan iri & dengki. Merasa kesal dengan orang lain, dianggap lebih sukses secara materi. Ironisnya, merasa senang jika sang rival alami kemunduran. Sejatinya, modal utama kebahagiaan adalah taqwa. Dijelaskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. (QS. Ali Imraan 15). Rahmat adalah sketsa kebahagiaan limpahan karunia Allah, bukan hasil usaha semata. Dilimpahkan, pada siapa saja dikehendaki Allah dan dicabut dari siapa saja yang dikehendaki-NYA. Manusia diberi pilihan kebebasan, kebahagiaan atau kesengsaraan. Ada 2 kunci fundamental, takdir & usaha. Di balik ikhtiar manusia, Allah punya takdir dan absolut milik-NYA. Keduanya, saling relevan tak terpisah. Berpeluang  menjadi pemicu terwujudnya gelombang kebahagiaan.

Masuknya hamba-hamba sholeh ke dalam surga bukanlah karena amalan mereka semata, melainkan karena rahmat dan kasih sayang Allah. Rasulullah bersabda : “Amal seseorang tidak dapat menyelamatkannya, seorang sahabat lantas bertanya tentang sabda tersebut. “Termasuk engkau juga ya Rasulullah ?” Rasulullah menjawab, “Ya aku juga, kecuali dikaruniai Allah dengan rahmat-NYA. Walaupun demikian engkau harus berbuat benar. (HR Bukhari & Muslim). Persis tatkala hasil korupsi, disumbangkan/diamalkan ke masjid, yayasan yatim piatu dan deretan lembaga sosial lainnya, diintepretasikan mampu menolongnya. Rasulullah bersabda, “Setiap daging yang dihasilkan dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih pantas kepadanya. Dan, di antara hal-hal yang langka di akhir zaman adalah dirham (uang) yang halal dan saudara (teman) yang bisa dipercaya.” Korelasinya, jika harta itu haram, baik substansi maupun metode mendapatkan, di antaranya korupsi, suap menyuap, penipuan, penggelapan, dan sejenisnya berdampak kecelakaan dunia & akherat.

Wabah al wahan menjangkiti sebagian manusia. Pola menjangkiti tampak kamuflase, pelan dan sistematik. Rasulullah bersabda rentang 15 abad silam, tentang penyakit mematikan, lebih dari flu babi, aids, flu burung, dan yang lainnya. Wabah al wahan (cinta dunia takut mati) menelusup hingga sumsum. Penyakit al wahan timbul karena faktor merasukinya hedonisme. Kemunafikan merajalela di setiap sudut, menyelimuti beragam kalangan. Cinta berlebihan terhadap harta, benda, tahta, dan yang lainnya, melahirkan mental pengecut dan takut mati. Relevansi keduanya laksana satu paket. Efek al wahan pemicu keengganan berjihad dalam mempertahankan iman & memperjuangkan agama. Penyebab kehinaan dan keterpurukan tatanan bernegara.                  

Meyakini takdir, manusia akan memiliki ketabahan. Terutama, dikala bencana atau musibah mendera bertubi-tubi, pun disaat menghadapi gejolak ancaman hidupnya. Ketabahan itulah pendorong kebahagiaan. Ketabahan muncul melalui proses keimanan, bertarung melawan bujuk rayu nafsu & tekanan keadaan. Sama, ketika pembuatan beragam barang, besi, botol, panci, ompreng, wajan, sendok, penggorengan. Saat dicetak mengalami tekanan pemanasan agar hasil maksimal. Jika tekanannya tidak maksimal, kerap hasilnya reject. Sama halnya manusia, tekanan kerap bertubi menghantam. Jika kita mampu bertahan dan istiqomah. Lalu, keluar menggapai kemenangan & mendulang karunia Allah. Kadang, hidayah muncul saat kesulitan mendera. Hati diberi petunjuk, niscaya pancarkan kepasrahan, singkirkan nafsu amarah & tepis rasa kesal, lahirlah kebahagiaan.  

Di tengah gemerlap pejabat mengukir harta, secuil kisah dramatis menimpa Rendi. Siswa belasan tahun SD Taraju, Tasikmalaya. Demi menyambung hidup, ia bekerja mencari belut dan mendorong motor (kawasan lembah, zig zag, dan berbahaya). Hasilnya dibelikan beras, sisanya untuk jajan. Kerap, ia bolos bukan malas, tapi demi bertahan hidup bersama sang adik. Sungguh tragis nasib Rendi. Disaat, seharusnya menikmati masa-masa indah sekolah, terhempas dalam pusaran dinamika kehidupan. Hasil kerja mendorong motor, ia mampu kantongi Rp 5000, jika lagi apes Rp 2000. Rendi ikut neneknya, karena kedua orang tuanya telah tiada. Terkadang iri membuncah dalam diri Rendi, tatkala melihat teman-teman sebaya, hidup wajar bersama orang tuanya. Rendi optimis dan pantang berputus harapan. Jangankan harta, untuk makan pun ia harus bekerja keras & meninggalkan bangku sekolah. Rendi, hanya salah satu potret buram kehidupan dramatis yang terendus media. Ironisnya, di luar sana manusia cenderung berfoya-foya, serakah, & menimbun harta, di tengah himpitan kemiskinan anak bangsa. Sampai kapan berakhir ?  Wallahu’alam bishawab

Penulis : Tejo Nagasakti

Tentang Penulis : Kolumnis, wartawan, aktivitas di bidang sosial & kemanusiaan. Tahun 2006 berhadapan dengan hukum, dianggap pencemaran nama baik terkait pemberitaan membongkar dugaan korupsi 84 miliar pejabat. Panggilan Polda Metro Jaya, Polres Jakarta Selatan, berakhir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pada 8 Januari 2008 sidang terakhir terbebas dari delik pers, berita akurat & cover both side.

 

 

 

Comments

comments