Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Selasa, Desember 10, 2019
Halaman Home » Otomotif » Gugatan Konsumen Rp56 Miliar, Soal SRS Airbag Honda City, Ini Jawaban Lengkap PT. Honda
  • Follow Us!

Gugatan Konsumen Rp56 Miliar, Soal SRS Airbag Honda City, Ini Jawaban Lengkap PT. Honda 

DESRYANTO ARUAN anak dari Maringan Aruan, tewas dalam kecelakaan di Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, saat mengendarai Honda City pada 2012 lalu. Maringan Aruan kemudian menggugat PT Honda Prospect Motor karena airbag tidak mengembang.

Gugatan itu sendiri bernilai Rp 56 miliar. Setelah mediasi selama tiga tahun dan kasus ini masuk ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, PT Honda Prospect Motor akhirnya memutuskan untuk meminta majelis hakim menolak gugatan tersebut. Berikut ini jawaban lengkap PT Honda Prospect Motor:

Pada tanggal 4 Maret 2015, PT Honda Prospect Motor menerima gugatan atas kecelakaan lalu lintas yang melibatkan Honda City tipe GM2 1.5 S AT bernomor polisi B 61 GIT yang terjadi pada tanggal 29 Oktober 2012 di Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan.

Dalam gugatan ini, penggugat yang bernama Maringan Aruan SE mendalilkan adanya pelanggaran Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen karena airbag mobil Honda City yang tidak mengembang dalam kecelakaan tersebut.

Sehubungan dengan hal ini, pada 19 Mei 2015, PT Honda Prospect Motor telah mengajukan jawaban atas gugatan tersebut di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang isinya meminta majelis hakim untuk menolak atau setidak-tidaknya menyatakan bahwa gugatan tidak dapat diterima berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut.

Pertama, tidak ada kerusakan atau cacat produksi pada SRS airbag mobil Honda City. Gugatan yang menyatakan pada intinya SRS airbag pada mobil Honda City mengalami cacat produksi adalah tidak benar. Mobil Honda City telah melalui proses pengujian kendaraan bermotor, baik secara internasional maupun peraturan yang berlaku di Indonesia. Selain itu, indikator mobil menunjukkan SRS airbag berfungsi dan tidak ada catatan gangguan di dalam servis berkala di service center dealer resmi Honda sebagaimana dinyatakan oleh penggugat.

Pasca-kecelakaan terjadi, atas permintaan dan persetujuan penggugat pula, telah dilakukan pengecekan atas mobil B 61 GIT oleh Honda Motor Jepang untuk mengetahui apakah SRS airbag Honda City tersebut mengalami gangguan ataukah berfungsi sebagaimana mestinya. Dari pemeriksaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa SRS airbag berfungsi dengan baik dan tidak ditemukan adanya cacat produksi pada komponen tersebut.

Sebagai informasi, sampai dengan saat ini, Honda tidak pernah mendapatkan laporan atau keluhan dari pelanggan Honda lainnya mengenai gangguan pada SRS airbag Honda City sebagaimana yang dipermasalahkan oleh penggugat.

Kedua, kecelakaan yang dialami penggugat tidak memenuhi kondisi atau prasyarat yang memicu berkembangnya airbag. Teknologi airbag mobil memang dirancang sedemikian rupa agar mengembang hanya pada kondisi-kondisi tertentu karena sebaliknya airbag dapat membahayakan pengemudi atau penumpang apabila terlalu mudah mengembang.

Untuk Honda City, kondisi yang dapat memicu SRS airbag untuk mengembang adalah tubrukan dengan kecepatan kendaraan 20-30 km/jam atau lebih terhadap benda kokoh yang tidak bergeser dan tidak hancur ketika terjadi tubrukan, misalnya dinding beton. Lalu jika tubrukan tersebut terjadi secara frontal dari arah depan kiri atau kanan dalam sudut tidak lebih dari 30 derajat. Sebaiknya, SRS airbag tidak akan mengembang dalam kondisi-kondisi sebagai berikut:

  1. Mobil menabrak pagar, tiang, pilar, atau benda lain yang akan mengalami pergeseran ketika tertabrak oleh mobil atau bukan benda tidak bergerak seperti dinding beton.
  2. Mobil menabrak tiang listrik, pohon, atau pilar, tepat di tengah dari bagian depan mobil.
  3. Tubrukan dari arah depan kiri atau kanan dalam sudut lebih dari 30 derajat.
  4. Tubrukan dari arah samping, tubrukan dari arah belakang, ataupun mobil terguling. Dalam kondisi tersebut, energi yang diterima sensor tidak cukup kuat untuk membuat SRS airbag mengembang.

Berdasarkan fakta yang ada, mobil Honda City yang dikendarai oleh anak penggugat mengalami tubrukan awal dengan pagar pembatas jalan di Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, yang mengakibatkan pagar pembatas jalan tersebut tercabut dan terbawa oleh bagian depan mobil. Tubrukan ini tidak memenuhi syarat SRS airbag mengembang karena obyek yang ditabrak bukan benda kokoh yang bergeser dan tidak hancur ketika terjadi tubrukan. Setelah menabrak pagar pembatas jalan, mobil kemudian melaju berlawanan arah hingga menabrak bagian pilar Rumah Makan Padang Karya Minang, tepat pada bagian tengah dari depan mobil. Kondisi tersebut termasuk dalam kondisi kecelakaan yang tidak menyebabkan SRS airbag mengembang.

Ketiga, kerugian yang diklaim penggugat tidak disebabkan karena airbag yang tidak mengembang. Bahwa SRS airbag pada Honda City yang tercatat tidak mengalami gangguan atau cacat produksi, teknologi G-CON dan ACE pada mobil tersebut telah bekerja dalam meredam energi benturan yang terjadi sehingga kabin mobil tetap utuh. Meskipun demikian, sebaik apa pun perangkat yang terpasang pada kendaraan, tetap saja tidak menjamin 100 persen bahwa pengemudi atau penumpang akan selamat dari kecelakaan, atau tidak mengalami cedera, atau tidak mengakibatkan kematian. Oleh sebab itu, dalam hal ini diperlukan tanggung jawab setiap pengemudi dalam berlalu lintas untuk mencegah terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor.

Berdasarkan fakta yang ada, diketahui bahwa pada saat kecelakaan, anak penggugat mengalami luka di daerah dada akibat tusukan besi pagar pembatas jalan yang tertabrak oleh mobil. Dalam hal ini, SRS airbag tidak didesain untuk mengurangi cedera akibat benturan pengemudi dengan setir, dan sejak awal tidak diperuntukkan untuk melindungi pengemudi dari tusukan benda tajam yang berasal dari luar, seperti yang dialami oleh anak penggugat.

Lebih lanjut, berdasarkan tanda bukti lapor kecelakaan lalu lintas nomor reg laporan 644/SK/9/2012/Ditlantas, kecelakaan terjadi pada tanggal 29 Oktober 2012 sekitar pukull 01.50 WIB. Karena pengemudi kurang konsentrasi sehingga mobil oleng ke kanan, lalu menabrak pagar pembatas jalan, dan menyeberang ke sisi jalan yang berlawanan hingga menabrak bagian pilar Rumah Makan Padang Karya Minang.

Keempat, ganti rugi yang dituntut penggugat tidak berdasar karena tidak ada hubungan sebab akibat antara kerugian penggugat dengan SRS airbag yang tidak mengembang. Berdasarkan fakta bahwa SRS airbag Honda City tidak mengalami cacat produksi, kecelakaan yang dialami tidak memenuhi kondisi atau prasyarat, untuk mengembangnya SRS airbag. Ditambah kerugian yang dialami penggugat tidak diakibatkan oleh SRS airbag yang tidak mengembang, maka tidak ada kewajiban bagi Honda untuk memenuhi tuntutan penggugat.

Meskipun demikian, Honda telah beriktikad baik dengan melakukan mediasi kepada pihak penggugat, bahkan jauh sebelum persidangan dimulai. Namun, mediasi tersebut tidak mencapai kesepakatan karena penggugat meminta Honda untuk membayar ganti rugi dengan total senilai Rp 56 miliar, yang termasuk di dalamnya sebesar 552.550 dolar Amerika untuk mengganti biaya hidup anak penggugat selama 8 tahun menempuh pendidikan di luar negeri serta biaya imateril senilai Rp 50 miliar.

Tuntutan tersebut tidak berdasar karena tidak ada sangkut-pautnya dengan tergugat dan tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 19 ayat 2 UU Perlindungan Konsumen yang pada intinya menyatakan ganti rugi yang dapat dibebankan kepada pelaku usaha adalah berupa pengembalian uang, penggantian barang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan, dan atau pemberian santunan.

Berdasarkan uraian-uraian hukum di atas, Honda telah mengajukan permohonan kepada majelis hakim agar gugatan tersebut ditolak atau dinyatakan tidak dapat diterima. (Otosia)

Comments

comments