Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Kamis, Februari 20, 2020
Halaman Home » Hukum » Dituduh Menipu Urus Eksekusi Lahan, Oknum Pengacara Ogah Pake Rompi Tahanan
  • Follow Us!

Dituduh Menipu Urus Eksekusi Lahan, Oknum Pengacara Ogah Pake Rompi Tahanan 

BERITA JAKARTA – Sidang kasus penipuan pengurusan eksekusi lahan milik almarhum Adang bin Manta di Jalan Kramat  Jaya No.86, Jakarta Utara atas terdakwa Adjis Gunawan Wibowo,SH, yang berpropesi sebagai pengacara ini, dinyatakan dapat dilanjutkan.

Dalam putusan sela yang dibacakan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Majelis Hakim diketuai Kisworo menyatakan perkara ini dapat dilanjutkan dengan pertimbangan surat  dakwaan Jaksa Sinta Dewi HTP sudah memenuhi syarat formil. “Sidang perkara ini dapat dilanjutkan,” ucap ketua Majelis Hakim yang sebelumnya juga menolak eksepsi terdakwa yang mohon agar perkara itu  ditolak karena bukan kewenangan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2015) kemaren.

Dan atas putusan ini, terdakwa menyatakan banding. Sementara majelis hakim perintahkan Jaksa untuk hadirkan saksi-saksi pada sidang selanjutnya.
Dalam kasus ini terdakwa berusia 71 tahun itu, dituduh Jaksa menipu pengurusan ekseksui lahan dan menggelapkan hak kepemilikan lahan tersebut. “Perbuatan itu dilakukan terdakwa di Hotel Nico, Jalan MH Thamrin, 22 Oktober 2009 lalu,” ucap Jaksa.

Jaksa menjelaskan, perbuatan ini berawal pada Juli 2009, terdakwa bertemu dengan Ivan Supriyatna dan Fahrul Kaharudin dan menyanggupi mengurus ekseksusi lahan Adang  bin Manta, kakek Ivan, dengan biayanya Rp2,8 miliar. “Sebulan kemudian, terdakwa suruh Fahrul mencari notaris untuk membuat akte tanah jual beli,” kata Jaksa.

Namun, tambah jaksa,  usai dibuatkan oleh Notaris Muljono, akte itu malah digunakan terdakwa untuk keperluan lain tanpa sepengetahun Ivan, selaku penjual lahan tersebut. “Belakangan, terdakwa minta pada penjual mendatangani kuitansi Rp2,8 miliar untuk membantah kepemlikan tanahnya itu yang diakui oleh PT Progisa,” terang Jaksa.

“Tapi, ternyata, dengan kuitansi itu, kemudian lahan itu diakui sebagai milik terdakwa.” tegas jaksa seraya menyebutkan akibatnya, pemilik lahan tidak bisa menjual lahannya dan menderita kerugian Rp3 miliar. (Bambang Swantoro)

Comments

comments