Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Sabtu, Februari 29, 2020
Halaman Home » Pilihan Redaksi » Akibat Sengketa Tanah Wakaf, Almarhum Siregar Ahirnya Dikebumikan di Halaman Rumah
  • Follow Us!

Akibat Sengketa Tanah Wakaf, Almarhum Siregar Ahirnya Dikebumikan di Halaman Rumah 

BERITA ASAHAN – Orang bilang, orang Batak itu kuat persaudaraannya. Mereka diikat oleh oleh Adat Istiadat yang sangat erat. Keharmonisan dan saling menjunjung leluhur selalu mereka pegang, dimanapun mereka berada.

Tapi itu lain, karna bagi warga Desa Rawang Pasar Lama dan Desa Rawang Pasar Baru Kecamatan Panca Arga Kabupaten Asahan, Sumatera Utara ini masalah tanah wakaf lebih penting dan sakral dibanding dengan “Dalihan Natolu”nya orang Batak.

Buktinya, hanya karna beda kelompok yang mengklaim sebagai pihak paling berhak atas tanah wakaf di desa mereka, Arifin Siregar (54) warga Desa Rawang Pasar VI tak jadi di kubur di tanah wakaf yang berada di pasar VIII, dan harus dikebumikan di halaman rumahnya sendiri, Sabtu (25/4/2015) kemaren sore sekitar pukul 18.45 WIB.

Kepada Beritaekspres.com, kerabat dekat almarhum, S Sidabutar mengatakan, kejadian ini berawal perseteruan antara pihak Sianturi Cs dengan masyarakat, kelompok Pensus Sinaga Cs, terkait permasalahan tanah wakaf, yang mana masalah ini sudah disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kisaran beberapa kali, sebagai pihak tergugat adalah kelompok Sianturi Cs, dimana hingga kini belum ada putusan final dari pihak pengadilan.

“Hanya karna tanah wakaf aja, saudara kami ini gak dikasih dikuburkan. Padahal masih satu kampung kami dek. Kejam kali orang itu,” kesal Sidabutar.

Salah seorang Ibu yang tak ingin disebutkan identitasnya kepada Beritaekspres.com, mengungkapkan, awal penolakan Pensus Cs dikarenakan, saat dimulainya perseteruan tanah wakaf, almarhum berada di kelompok Pensus Cs, memberikan dukungan berupa tenaga maupun materi.

Seiring berjalan persidangan, almarhum tanpa ada paksaan dan tekanan, ataupun niat membangkang, keluar dari kelompoknya. Almarhum mengambil posisi tidak ikut berperan serta langsung dalam kelompok Pensus Cs dalam menggugat kelompok Sianturi Cs.

Tak lama, almarhum mengadakan pesta adat istiadat, istilahnya Marbatu Sulang, karna awal pernikahan almarhum belum membayar adat kepada pihak keluarga istrinya. Dalam pesta itu, keluarga almarhum turut mengundang Sianturi, tak lain adalah pimpinan kelompok yang digugatnya dahulu bersama masyarakat.

Kehadiran Sianturi inilah yang memicu kebencian Pensus Cs merasa dikhianati, almarhum disebut sebagai penghianat,”Padahal Sianturi itu tulang (paman,red) kandung, gak ada maksud lain-lain bang,” terang ibu ini seraya mengatakan, almarhum diketahui meninggal dunia secara tiba-tiba, Kamis (23/4/2015) lalu.

Pantauan Beritaekspres.com, perang fisik nyaris terjadi antara kelompok Pensus Cs dengan keluarga amarhum disekitar tanah wakaf. Beruntung personil kepolisian dari Polres Asahan siaga dilokasi dan berhasil menghalau kedua pihak.

Usai diberikan arahan oleh pihak kepolisian dan kecamatan, akhirnya dengan berat hati, ayah 5 anak itu dikebumikan di halaman rumahnya sendiri. Kapolsek Air Joman W Siregar mengaku, sejak korban meninggal dunia, dirinya mendapat kabar ada konflik di lokasi.

Menghindari bentrokan antar warga, dirinya bersama Camat Rawang Panca Arga A Sitinjak telah mencoba memediasi kedua kelompok,”Sudah 2 hari saya disini sama Camat, tapi tak ada jalan temu,” tutup Wilson. (***)

Kabiro Asahan Sumut: Fran Manurung

Comments

comments