Referensi, Berita Hukum, Politik dan Pemerintahan|Senin, Desember 9, 2019
Halaman Home » Entertainment » Silaturahim Dengan Insan Film Nasional, Presiden Jokowi Sindir Sedikitnya Jumlah Bioskop
  • Follow Us!

Silaturahim Dengan Insan Film Nasional, Presiden Jokowi Sindir Sedikitnya Jumlah Bioskop 

BERITA JAKARTA – Menyambut Hari Film Nasional, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Senin (30/3) malam, menggelar Silaturahim Dengan Masyarakat Film, di Istana Negara, Jakarta.

Ratusan insan film nasional tampak hadir di acara tersebut mulai dari Christine Hakim, Jajang C. Noer, Anwar Fuadi, Dian Sastro Wardoyo, Selamet Rahardjo Djarot, Reza Rahadian, hingga Glen Fredly, Roy Marten, Hengky Sulaeman, dan Putu Wijaya.

Sementara dari jajaran pemerintah tampak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf.

Jumlah Bioskop                     

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengisahkan masa-masa mudahnya yang senang nonton paling tidak dua minggu sekali. “Dulu saya ingat, di daerah itu ada tiga tempat nonton film: ada yang elit, ada yang rakyat, ada yang misbar. Saya nontonnya yang di rakyat. Jadi kalau di elit itu di bioskop gedenya sudah main bulan Januari, saya nunggunya bulan Juni, 6 bulan setelah itu. Kalau luput, ya nanti nunggu di misbar-nya,” kata Jokowi disambut tawa hadirin.

Menurut Presiden, saat masih anak-anak ia nonton film “Si Buta dari Goa Hantu”. Kemudian agak gede sedikit diajak orang tua nonton “Ratapan Anak Tiri”. Kemudian gede lagi, agak sudah remaja nonton lfilm-film remaja “Gita Cinta dari SMA”, apalagi “Puspa Indah di Taman Hati”. Adapun bintangnya yang diingat Jokowi adalah Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Yessi Gusman, Rano Karno.

“Tapi sebelum itu, itu ada film “Akibat Pergaulan Bebas”, saya ingat banget, saya ingin nonton itu tapi umur saya belum 17 tahun. Jadi, saya nggak nonton,” kata Jokowi yang lagi-lagi disambut tertawa hadirin.

Sekarang pun, lanjut Presiden Jokowi, ia juga masih nonton tapi tidak sering, paling tiga bulan sekali. Terakhir, Jokowi mengaku senang yang genre komedi. “Kalau yang dulu Dono Kasino, Benjamin, sekarang yang saya lihat sering nonton filmnya Raditya: Cinta Brontosaurus, yang pakai salmon apa ya.. Manusia Setengah Salmon, terus Comic Eight. Comic Eight saya lihat juga dan bagus sekali, saya senang sekali,” ujarnya.

Namun Presiden Jokowi mengeluhkan, bahwa film-film itu sekarang hanya bisa dinikmati di bioskop yang ada di mal-mal besar, sedang yang untuk rakyat atau untuk misbar sudah tidak bisa lihat lagi sekarang.

“ Inilah saya kira tugas pemerintah, tugas Kementerian, tugas Badan Ekonomi Kreatif untuk memunculkan yang dua ini lagi agar rakyat bisa nonton film Indonesia,” tutur Jokowi.

Menurut laporan yag diterimanya, kata Presiden Jokowi, sekarang ini ada kira-kira seribuan gedung bioskop. Padahal, menurutnya, normalnya  harusnya  paling tidak 5-6 ribu. Berarti, masih kurang empat ribuan.

“Ini tugasnya pemerintah untuk memberikan stimulasi agar yang dua ini bisa hidup lagi. Kalau yang dua ini hidup lagi, saya meyakini industri perfilman dengan insentif dari pemerintah, akan menguasai pasar,” papar Jokowi.

Presiden Jokowi meminta Badan Ekonomi Kreatif agar merumuskan insentif yang bisa mendorong industri perfilman nasional bisa hidup lagi.

“Kita memiliki pasar yang sangat besar sekali, pasar yang sangat besar sekali. Jangan sampai nanti yang karena industri perfilman Indonesia yang tidak menguasai pasar justru dikuasai oleh film-film dari luar, entah Hollywood, entah Bollywood, entah dari Korea atau dari Jepang yang justru menguasai pasar,” pesan Kepala Negara.

Pada akhir sambutannya, Presiden Jokowi mengajak seluruh rakyat Indonesia agar terlebih dahulu nonton film-film Indonesia sebelum menonton film dari luar negeri.

Selanjutnya, Presiden bersama sekitar 400 hadirin yang hadir nonton bareng (nobar) film berjudul ‘Cahaya Dari Timur: Beta Maluku’. Film ini meraih penghargaan kategori Film Terbaik pada ajang FFI 2014 dan merupakan karya dari sutradara Angga Dwimas Sasongko.

(ES)

Comments

comments